RSS

Kritik Hadis: ”Talak Dibenci Allah”, “Talak Menggetarkan Singgasana Tuhan”

21 Jan

Kajian Literatur

Kritik Hadis:
”Talak Dibenci Allah”
“Talak Menggetarkan Singgasana Tuhan”

Oleh. Umar Fayumi
”Janganlah menjatuhkan talak, karena sesungguhnya singgasana Tuhan akan tergetar olehnya”. ”Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak”. Dua ungkapan ini, oleh banyak kalangan, terutama para da’i, sering dianggap sebagai hadis atau sabda Nabi. Benarkah anggapan tersebut?

Karena adanya dua ung-kapan di atas, banyak kalangan beranggapan, talak merupakan hal yang ”harus” dihindari, meski resikonya adalah ”hidup tersiksa” dalam ikatan perkawinan yang ”menyakitkan”. Sebab, apapun alasannya, talak merupakan hal buruk yang meskipun dihalalkan namun tetap saja dibenci Tuhan. Bahkan, singgasana-Nya pun akan tergetar (murka) karenanya.

Di satu sisi, anggapan semacam itu ada baiknya bila berkembang di masyarakat, karena dua ungkapan di atas bisa mengurangi angka perceraian, dan terutama lagi bisa turut membendung terjadinya perceraian yang tidak bertanggung jawab. Namun, di sisi lain, tidak sedikit juga ”korban” yang harus menanggung ”akibat buruk” dari berkembangnya anggapan semacam itu.

Inilah yang ironis, karena tak jarang ditemukan fenomena rumah tangga yang ”mati” tidak, tapi ”hidup” juga tidak. Gara-garanya adalah karena ”ketidakberanian” menalak atau menggugat talak, meskipun kondisi rumah-tangganya jelas-jelas sangat tidak kondusif, dan ”kisah penindasan” pun terus berlangsung di dalamnya. Maka, yang kemudian terjadi adalah talak tidak ada, tapi hidup berumah tangga secara sakinah mawaddah wa rahmah juga tidak terwujud. Persoalannya, masyarakat sudah terlanjur ”mengimani” stigma buruk atas kasus perceraian, apa pun alasan dan latar belakangnya.

Dan stigma ini, sadar atau tidak, sedikit banyak dipengaruhi oleh keyakinan sebagian masyarakat tentang ”kebenaran” ungkapan-ungkapan di atas yang selama ini terlanjur diyakini sebagai hadis dan sabda Nabi. Ironisnya, jika perempuan yang mengajukan gugat talak misalnya, maka akan muncul satu stigma buruk yang dilabelkan kepadanya, yaitu dianggap sebagai ”bukan perempuan salehah”, meskipun penyebabnya adalah penyelewengan suami atau karena kasus KDRT yang menimpanya.

Inilah yang akan kita kaji lebih lanjut. Patutkah hal yang semacam itu diyakini bersumber dari sabda Nabi? Apakah ini hanya karena pemahamannya saja yang salah, atau sebaliknya memang teks itulah yang tidak shahih penisbatannya kepada Nabi?

Kritik Sanad (Sejarah Teks)
Teks pertama, yakni ”Janganlah menalak, karena sesungguhnya singga-sana Tuhan akan tergetar olehnya”, riwayatnya dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya, Akhbar Ashbahan, dan al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh-nya, dari riwayat ‘Amr ibn Jami’, dari Juwaibir, dari ad-Dhahhak, dari an-Nazal ibn Sabrah, dari ‘Ali ibn Abi Thalib, dari Nabi. Bunyi (terjemahan) lafalnya begini: ”Menikahlah kalian dan janganlah menalak, karena sesungguhnya singga-sana Tuhan akan tergetar olehnya.” (HR. Abu Nu’aim, al-Khathib al-Baghdadi, dan ad-Dailami).

Status riwayat ini dinilai maudhu’ atau palsu oleh banyak ulama ahli hadis, diantaranya Ibn al-Jauzi dalam kitabnya, al-‘Ilal al-Mutanahiah, as-Suyuthi dalam kitabnya, al-La’ali al-Mashnu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, dan Ibn ‘Arraq dalam kitabnya, Tanzih as-Syari’ah. Sumber persoalan utama-nya terletak pada perawi bernama ‘Amr ibn Jami’. Perawi ini dikenal sebagai sosok yang ”banyak mera-wikan hadis-hadis munkar dan hadis-hadis maudhū’ dari tokoh-tokoh ahli hadis yang terkenal dan terpercaya (yang mereka itu karena kredibilitasnya yang tinggi tidak mungkin merawikan hadis-hadis yang semacam itu)”. Demikian dinyatakan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh-nya.

Berkenaan dengan ini, Ibn Ma’in berkomentar, ”Dia (‘Amr ibn Jami’) adalah perawi yang pembohong dan buruk (tindakannya).” Semen-tara itu, Ibn al-Jauzi dalam kitabnya, al-‘Ilal al-Mutanahiah, menjelaskan, ”Hadis ini tidak benar adanya. Di situ banyak masalah. Perawinya bernama ad-Dhahhak dicela (majruh) oleh banyak ulama ahli hadis. Juwaibir periwayatnya tidak bernilai apa-apa (laisa bi syai’). Dan ‘Amr ibn Jami’, oleh Ibn ‘Ady, dinyatakan sebagai perawi yang diindikasikan kuat sebagai pemalsu hadis-hadis (yuttaham bi al-wadh’).”

Jadi, kesimpulannya, hadis ”Ja-nganlah menalak, karena sesungguh-nya singgasana Tuhan akan tergetar olehnya” adalah hadis palsu (maudhū’), artinya Nabi sama sekali tidak menyabdakaannya.

Sedangkan teks kedua, yakni ”Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak”, riwayatnya dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya, juga al-Baihaqi dalam kitab Sunan-nya, dan Ibn ‘Ady dalam kitabnya, al-Kamil, dari riwayat Muhammad ibn Khalid, dari Mu’arrif ibn Washil, dari Muharib ibn Ditsar, dari Ibn ‘Umar ra., dari Nabi, dengan bunyi (terjemahan) lafalnya sebagaimana telah disebutkan tadi.

Dalam konteks ini, Ibn Abi Hatim dalam kitabnya, al-‘Ilal, menambahkan, riwayat tersebut pada kesempatan yang berbeda juga dirawikan oleh Muhammad ibn Khalid (perawi yang sama yang merawikan dengan sanad di atas), tapi dia merawikannya dari al-Wadhdhah (bukan dari Mu’arrif ibn Washil, seperti yang dirawikannya pada sanad di atas), dari Muharib ibn Ditsar, dari Ibn ‘Umar ra., dari Nabi.

Ibn Majah dalam kitab Sunan-nya, menambahkan, Muhammad ibn Khilid ini di saat yang lain juga merawikannya dari ‘Ubaidullah ibn al-Walid dan Mu’arrif ibn Washil (secara bersamaan), dari Muharib ibn Ditsar, dari Ibn ‘Umar ra., dari Nabi. Namun, yang jelas, semua riwayat yang dikemukakan oleh Muhammad ibn Khalid di sini adalah berstatus maushul (yakni tersambung sanadnya hingga na-rasumber pertama ”pencetus” matan, alias Nabi).

Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya, menambahkan, ungkapan ”Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak” ini dirawikan juga oleh Ahmad ibn Yunus, dari Mu’arrif ibn Washil, dari Muharib ibn Ditsar, dari Nabi. Di sini, Ibn ‘Umar tidak disebutkan dalam rentetan perawi. Karena itu, maka status hadisnya adalah mursal (sanadnya terputus di tingkatan perawi dari kalangan sahabat Nabi, dan langsung meloncat kepada Nabi sebagai nara sumber pertama ”pencetus” matan). Riwayat mursal ini dirawikan juga oleh Ibn al-Mubarak dalam kitabnya, al-Birr wa as-Shilah, dan Abu Nu’aim al-Fadhl ibn Dukain, dari Mu’arrif ibn Washil, dari Muharib ibn Ditsar, dari Nabi.

Jadi, pada intinya, riwayat yang menyebutkan, ”Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak”, secara historitas teks dirawikan oleh dua perawi secara berbeda, yakni dirawikan oleh Muhammad ibn Khalid al-Wahbi secara maushul, dan oleh Ahmad ibn Yunus dirawikan secara mursal. Terhadap kedua sanad yang berbeda ini, para ulama ahli hadis menegaskan bahwa yang terkuat dan bisa diterima validitasnya adalah riwayat Ahmad ibn Yunus yang mursal. Ini ditegaskan oleh maestro-maestro kritikus hadis, seperti Abu Hatim dan Abu Dawud. Sedangkan riwayat Muhammad ibn Khalid yang maushul dinyatakan sebagai ”bermasalah karena pada sanadnya terjadi idhthirāb (kesimpangsiuran)” (lihat al-Albani dalam kitabnya, Irwa’ al-Ghalil).

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa ungkapan ”Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak”, karena alasan ke-musrsal-an (pada sanadnya Ahmad ibn Yunus) dan idhthirab (pada sanadnya Muhammad ibn Khalid), maka berdasarkan kriteria ilmu hadis, riwayat yang demikian itu statusnya adalah dha’if (lemah), dan karena itu tidak bisa dikatakan sebagai bersumber dari sabda Nabi.

Kritik Matan (Pemahaman Teks)
Ditinjau dari segi matan, kedua ”hadis” di atas masing-masing mengandung makna yang dalam ilmu hadis biasa disebut sebagai ”fihi nakarah” (terindikasi mengundang penolakan), karena pemahaman yang ditimbulkannya berbenturan dengan teks-teks lain (Alquran dan Hadis) yang notabene berstatus ”lebih sahih” (ashahh) atau ”lebih kuat” (aqwa).

Teks pertama, yakni ”Janganlah menalak, karena sesungguhnya singgasana Tuhan akan tergetar olehnya”, ditinjau dari segi matan, bahasa dan redaksi yang digunakan terindikasi kuat berseberangan, atau at least tidak senafas dengan al-ma’luf min kalam an-nubuwwah (yang biasa berlaku sebagai gaya bahasa yang khas digunakan oleh Nabi).

Dalam banyak hadis yang shahih, misalnya, ungkapan ”singgasana Tuhan tergetar” justru banyak digunakan oleh Nabi untuk menggambarkan apresiasi dan ekspresi ”kegembiraan” Tuhan yang ”spesifik” terhadap apa yang terjadi atau dilakukan oleh hamba-Nya yang luhur budi dan ”berjasa” bagi umat, bukan untuk menggambarkan ”ekspresi kemurkaan”. Misalnya, sabda Nabi: ”Singgasana Tuhan (arsy ar-Rahman) tergetar karena kematian Sa’d ibn Mu’adz.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Jabir ra.), atau ”Singgasana Tuhan tergetar karena kematian Sa’d ibn Mu’adz, disebabkan oleh kegembiraan (farah) Tuhan atasnya.” (HR. Tammam dalam kitabnya, al-Fawa’id, dari Abu Sa’id al-Khudri ra.). Dan Sa’d ibn Mu’adz sendiri, menurut catatan sejarah, dikenal sebagai pejuang dan pahlawan yang gigih membela Islam. Dia tercatat sebagai kelompok sahabat yang pertama kali mengajukan diri sebagai ”perisai” Nabi di saat perang Uhud. Dia juga sebagai pelopor dakwah Islam di kalangan bani Aus. Seluruh anggota klan bani ‘Abd al-Asyhal berbondong-bondong memeluk Islam dengan suka rela berkat jasa dan kepemimpinan Sa’ad. Saking ”hebatnya”, karena ”kegembiraan” Tuhan menerima kehadirannya di sisi-Nya, singgasana-Nya sampai tergetar oleh kematian Sa’d.

Jadi, seperti itulah ungkapan ”singgasana Tuhan tergetar” digunakan oleh Nabi, yakni untuk menggambarkan apresiasi dan ”kegembiraan” Tuhan atas apa yang terjadi atau dilakukan oleh hamba-Nya yang luhur budi, gigih dan berjasa bagi umat. Bukan, sebaliknya, untuk mengungkapkan makna dan ekspresi ”kemurkaan” sebagaimana yang terdapat dalam teks riwayat yang berkenaan dengan talak di atas. Uniknya, hadis-hadis yang redaksinya menggunakan ungkapan tersebut untuk konotasi makna yang menggambarkan ”kemurkaan ataupun kebencian” Tuhan, semuanya adalah dha’if , alias berstatus lemah karena validitasnya diragukan. Hal ini tentunya turut memperkuat indikasi ke-dha’if-an riwayat yang menyebutkan bahwa singgasana Tuhan akan tergetar karena persoalan talak. Sebagai contoh, sebut saja, misalnya, riwayat ”Apabila seorang fasik dipuji-puji, maka Allah menjadi murka dan singgasanya pun akan tergetar oleh karenanya.” (HR. al-Baihaqi dalam kitabnya, Syu’ab al-iman, dari Abu Khalaf salah seorang pembantunya Anas ibn Malik, dari Anas ra., dari Nabi. Hadis ini disebutkan oleh al-Dzahabi dalam kitabnya, Mizan al-I’tidal, dan ditegaskan olehnya sebagai ”hadis munkar”. Penyebabnya adalah Abu Khalaf yang dinyatakan sebagai ”pembohong” oleh Ibn Ma’in dan dinyatakan ”munkar al-hadits” oleh Abu Hatim).

Adapun teks kedua, yakni ”Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak” (juga teks riwayat sebelumnya yang menyebutkan bahwa singgasana Tuhan tergetar karena persoalan talak), secara matan maknanya juga bertentangan dengan apa yang terkandung dalam QS. an-Nisa’, 4: 130 yang menyebutkan, ”Apabila keduanya (suami-isteri yang berselisih) berpisah (secara baik-baik dan demi kebaikan bersama), niscaya Allah akan menjadikan bagi masing-masing dari keduanya ghina’ (ketercukupan dalam penyelesaian masalah) karena kemaha lapangan-Nya”.

Ayat ini jelas-jelas menyebutkan, apabila talak memang merupakan jalan terbaik bagi suami-isteri yang berselisih, kemudian dilakukan secara baik-baik dan demi kemaslahatan bersama, maka yang demikian itu ”direstui” oleh Allah dan karenanya Allah akan melimpahkan berkah berupa ghina’ kepada mereka. Isi dan makna yang terkandung dalam ayat ini tentunya sangat bertentangan dengan apa yang terkandung dalam teks riwayat di atas. Kalau memang shahih bahwa talak merupakan perkara halal yang paling dibenci Tuhan, lalu mengapa kemudian dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa talak dalam kondisi tertentu justru direstui dan mendapatkan limpahan keberkahan dari-Nya?

Kesimpulan
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kedua riwayat di atas, yakni ”Janganlah menalak, karena sesungguhnya singgasana Tuhan akan tergetar olehnya”, dan ”Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak”, status sanad dan matannya adalah lemah, dan karena itu tidak bisa dikatakan sebagai ”bersumber dari sabda Nabi”.

Kalupun oleh beberapa kalangan kedua riwayat tersebut (terutama riwayat yang kedua) cukup ”layak” dijadikan ”dasar” dalam konteks memberikan motivasi yang berkenaan dengan fadha’il al-a’mal (perilaku dan tindakan yang luhur), maka pemahamannya harus diluruskan terlebih dahulu, karena riwayat yang semacam itu, dalam beberapa riwayat disebutkan berbarengan dengan konteks yang melatarbelakanginya. Nah, berdasarkan konteks itulah pemahaman atas riwayat yang ada mesti diarahkan.

Imam al-Baihaqi dalam kitabnya, as-Sunan al-Kubra, mengeluarkan riwayat dari Muharib ibn Ditsar, dia berkata: ”Di zaman Nabi, ada seorang laki-laki yang menikah dengan seorang perempuan, ke-mudian ia menceraikannya. Na-bi bertanya kepadanya: ”Apa-kah kamu sudah menikah?”. ”Sudah”, jawabnya. ”Lalu, apa yang terjadi?” tanya Nabi. ”Aku telah menceraikannya.” ”Apakah karena ada sesuatu yang mencuri-gakan dari isterimu?”. ”Tidak”. Kemudian, laki-laki itu menikah dengan perempuan lain dan menceraikannya lagi. Dan begitu dia melakukannya hingga dua atau tiga kali, sementara Nabi selalu mengomentarinya dengan hal yang sama. Oleh karena itu Nabi kemudian bersabda: ”Sesungguhnya perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak”. Hadis ini statusnya adalah mursal. Dengan demikian, ketentuan bahwa talak merupakan perkara halal yang paling dibenci Tuhan, kalau hal itu memang ”harus” dikemukakan pada ceramah-ceramah atau tausiah-tausiah, maka pemahamannya adalah sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat al-Baihaqi di atas. Yaitu, bahwa ketentuan tersebut hanya berlaku bagi mereka yang suka kawin-cerai hanya untuk bersenang-senang dan tanpa alasan tertentu yang dibenarkan menurut syariat.

Kemudian, terkait masalah khulu’ (perceraian karena gugatan dari pihak isteri), perempuan yang mengajukan gugat cerai karena alasan yang sah ternyata tidak ”dikomentari” secara tidak baik oleh Nabi, apalagi dikenai label sebagai “bukan perempuan salehah”. Contohnya adalah kasus gugat cerai yang dialami oleh Jamilah isteri Tsabit ibn Qais. Tsabit sendiri orangnya lurus-lurus saja, alias seorang yang saleh dan perlakuannya kepada isterinya juga baik, dan Jamilah sendiri memang tidak mengeluhkan hal itu di hadapan Nabi. Jamilah mengajukan gugat cerai kepada Nabi atas suaminya, hanya karena (maaf) penampilan fisik suaminya yang ”buruk rupa” dan tidak sedap dipandang (damim). Inilah yang menyebabkan Jamilah selalu merasa khawatir apabila suatu saat ketika dia menjadi ”tidak tahan” lagi dengan ”ketidaknyamanan” itu kemudian dia justeru akan melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan menurut syariat. Karena itulah Jamilah mengajukan gugat cerai secara baik-baik. Tujuannya untuk menghindarkan terjadinya mafsadah (kerusakan) yang lebih besar. Menyikapi hal ini, apa gerangan yang dilakukan oleh Nabi? Ternyata Nabi meloloskan permintaan gugat cerai Jamilah (tentunya atas persetujuan dari Tsabits) dengan syarat membayar tebusan berupa pengembalian maskawin kepada Tsabit. Selain itu, Nabi tidak berkomentar apa-apa. Tidak mengkritik ataupun mencela tindakan Jamilah! (lihat as-Shan’ani dalam kitabnya, Subul as-Salam, bab al-Khul’, HR. al-Bukhari dari riwayat Ibn ‘Abbas ra.)[***]

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Januari 21, 2009 in Tantri

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: