RSS

SATU KEMANUSIAAN BERAGAM KEYAKINAN

19 Jun

IMGP0521

“Apakah akan ada perdamaian di muka bumi ini?” Pertanyaan ini memang sulit untuk dijawab. “Tapi bila kita memulai upaya ini dengan membangun kerjasama antar penganut agama, hal itu pasti bisa dicapai”, tutur Master Chin Kung, Pimpinan Amitabha Buddhist Association of Queensland, Australia. Untuk tujuan tersebut, digelar suatu Konferensi Tingkat Tinggi Antar Iman (Interfaith summit)pada tanggal 18-21 Pebruari 2009,di Brisbane, Australia.

Forum ini diselenggarakan oleh Multi Faith Centre (Pusat Multi Keyakinan), Griffith University, Australia dan Pure Land Learning College Association, yang dipimpin oleh Master Chin Kung. Tema yang diusung kali ini adalah “One Humanity, Many Faith (satu kemanusiaan beragam keyakinan)”. Pelaksanaan konferensi didukung oleh enam belas (16) organisasi keagamaan, tiga belas (13) lembaga pendidikan dan akademik, serta dua puluh tiga (23) organisasi social kemasyarakatan.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi salah satu dari puluhan tokoh lintas agama, teolog, akademisi dan penggiat perdamaian dari kawasan Asia Pasifik yang diundang sebagai pembicara dalam konferensi yang mengangkat tema “Satu kemanusiaan beragam keyakinan” tersebut. Selain Gus Dur, ketua umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin juga akan hadir dalam KTT ini.

Gus Dur datang bersama mantan Ibu Negara Sinta Nuriyah Wahid dan tujuh anggota delegasi RI, yaitu Abdul Fatah Muchit (Depag RI), DR. Tjahjadi Nugraha Damaris, Bingki Irawan Po, Dewa Ketut Suratnaya, Hermawi Taslim, Bambang Susanto dan Isabel Koniawani Kho. Gus Dur didampingi oleh Sulaiman dan Ibu Sinta didampingi oleh Ira Sulistya.

KTT ini juga menghadirkan banyak tokoh lain, seperti Prof. James Haire dari Pusat Kristen dan Budaya Australia, Tom Calma (Komisi HAM Australia), Felix Macado (Keuskupan Nasikh, India), Jeremy Jones (Dewan Eksekutif Yahuidi Australia), Yi Thon (Dewan Antar Iman Kamboja), dan Dr. Loreta Castro (Pusat Pendidikan Perdamaian Filipina).

KTT antar Iman se-Kawasan Asia Pasifik yang dihadiri mantan Presiden Abdurrahman Wahid ini dibuka di Aula kota Brisbane, Rabu pagi dengan pemanjatan doa khusus selama satu menit bagi para korban bencana kebakaran semak belukar di negara bagian Victoria. Kebakaran tersebut telah menewaskan sedikitnya 200 orang warga dan seorang anggota pemadam kebakaran yang bertugas saat itu. Doa khusus tersebut dibacakan oleh sembilan tokoh dari sembilan agama dan keyakinan dunia dalam bahasa agama masing-masing. Dalam doa singkatnya mereka menyuarakan pentingnya para penganut beragam agama senantiasa mengedepankan keadilan, cinta kasih dan penghargaan kemanusiaan serta penanggalan baju kecongkakan diri dalam pergaulan di masyarakat dan antar bangsa.

Seruan yang sama juga disampaikan pimpinan Pure Land Learning, Chin Kung dalam pidato kuncinya pada sesi pembukaan KTT tersebut. Mantan Presiden Abdurrahman Wahid dan Mantan Ibu Negara Sinta Nuriyah Wahid berada di barisan paling depan dalam KTT yang diikuti lebih dari 300 orang peserta dari Indonesia, China, Thailand Filipina, Vietnam, Kamboja, Srilangka, Fiji, Selandia Baru, Singapura, Malaysia, dan Australia sebagai tuan rumah.

Chin Kung mengingatkan ke-pada para peserta KTT bahwa akar penyebab konflik dan berbagai persoalan pelik dunia saat ini, sejatinya berada di dalam manusia itu sendiri. Ia mengatakan, terjadinya pertarungan antara kebaikan dan hawa nafsu yang mengedepankan keuntungan pribadi berada dalam diri manusia.

Sementara itu, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Direktur Pusat Multi Keyakinan Universitas Griffith, Prof. Toh Swee Hin, PM Australia Kevin Rudd mengatakan, dialog antar iman memberikan sumbangan besar bagi terbangunnya pemahaman antar penganut agama dan keyakinan di dunia. “Semua agama besar di dunia memiliki pandangan yang sama tentang apa yang benar dan apa yang salah serta apa itu keadilan”, kata PM Rudd.

UUD 45 Menjamin Kemerdekaan Beragama

Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid tampil pada sesi panel pertama yang mengupas tentang peran agama dalam membangun perdamaian dan harmoni di Australia dan kawasan Asia Pasifik. Gus Dur tampil bersama dengan tokoh Katholik Australia, Phillip Aspinal, Wakil Presiden Federasi Dewan Budhist Australia, Mohini GuneSekera, dan Sekretaris Dewan Hindu Australia, Vijay Singhal dalam sesi yang mengupas soal peran agama dalam membangun perdamaian dan harmoni di Australia dan kawasan Asia Pasifik.

Dengan menggunakan bahasa Inggris yang lancar, dalam pemaparan lisannya di hadapan lebih dari 300 peserta KTT tersebut, Gus Dur menyoroti masalah kisruhnya Ahmadiyah dan pengesahan UU pornografi yang menimbulkan kontroversi di masyarakat plural Indonesia. Sekalipun demikian, Gus Dur menyampaikankeyakinannya, bahwa bangsa Indonesia yang memegang teguh UUD 45, akan menang menghadapi kalangan fundamentalis itu.

Namun terlepas dari masalah yang kini ada dalam kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan Indonesia yang majemuk di tengah geliat demokrasi, Gus Dur mengatakan optimis dengan masa depan Indonesia.

Beliau menegaskan keyakinan-nya bahwa, perjuangan rakyat Indionesia yang memegang teguh UUD 45 yang menjamin kemerdekaan beragama bagi setiap warga negara, akan menang menghadapi ujian dari kaum fundamentalis. Rakyat Indonesia sudah sepatutnya memegang teguh konstitusi negara tersebut dan bekerja secara cerdas.

Agama Bukan Pemicu Kekerasan

Tokoh gereja Anglikan, Phillip Aspinal mengatakan, “Agama hanya digunakan sebagai kendaraan dalam aksi kekerasan, demi mewujudkan agenda tertentu”. Pandangan Aspinal ini diamini oleh Mohini Gunesekera. Tokoh Agama Budha di Australia ini menegaskan, dirinya tidak percaya bahwa agama merupakan factor penyebab timbulnya kekerasan, namun terkadang agama dipakai orang-orang tertentu untuk men-dapatkan dukungan atas agenda politik mereka.

Bagi Vijay Singhal, akar pemicu banyak konflik dan peperangan di dunia, sama sekali bukanlah agama, melainkan kepentingan ekonomi. “Kalau kita analisa, akar penyebab banyak persoalan dunia adalah ekonomi. Sebagai contoh, kelompok masyarakat tertentu dieksploitasi kelompok lain”, katanya.

Konflik Muncul dari Diri Manusia Sendiri

Sementara tokoh terklemuka agama Budha dunia, Master Chin Kung mengatakan: “Konflik dan peperangan yang mewarnai kehidupan umat manusia di dunia hingga saat ini, sesungguhnya berakar dari pertarungan antara nilai baik dan kebiasaan buruk dalam diri manusia itu sendiri”. Selanjutnya ia mengatakan: “akar sesungguhnya dari konflik adalah pertarungan anatra nilai sejati kebaikan dan kebiasaan negative seperti pikiran dan pandangan buruk dalam diri kita sendiri”, katanya. Ia percaya sepenuhnya terhadap peran kerja sama antar tokoh dan penganut agama di dunia dalam penyelesaian konflik dunia. “Caranya adalah, setiap negara, setiap kelompok etnis, setiap partai politik dan faksi, dan setiap kelompok penganut agama, memperluas wawasan dan horizon berfikir mereka untuk hidup berdampingan secara damai, mengedepankan persamaan dan menepikan perbedaan, menerapkan azas persamaan dan keadilan”, katanya.

Untuk membangun harmoni dan kehidupan damai antar penganut agama dan keyakinan yang berbeda, lanjutnya, kegiatan mempelajari teks agamanya sendiri dan agama-agama lain, adalah cara yang baik guna membangun pemahaman. Ia juga memandang penting kehadiran apa yang disebut unversitas agama-agama untuk mencetak akademisi dan guru-guru yang tidak hanya memahami secara mendalam nilai ajaran agamanya tetapi juga belajar dan memahami nilai-nilai ajaran agama lain.

Menurut asisten bidang politik Gus Dur, “Kebersamaan antar bangsa di kawasan Asia Pasifik ini tidak lagi cukup hanya melalui program pertukaran generasi muda, lebih dari itu, yakni melalui studi bersama di mana anak muda Australia dan China, misalnya, bisa tinggal langsung di Jawa Timur. Sebaliknya anak-anak muda Indonesia juga bisa belajar bersama rekan-rekan mereka dari Australia dengan tinggal langsung di negara itu untuk beberapa lama”, katanya.

Akhirnya dari KTT ini para peserta diharapkan dapat menemukan titik temu nilai dan prinsip dari agama-agama yang ada, dan merumuskan usul kebijakan di tingkat lokal, nasional dan regional untuk mendorong upaya mewujudkan perdamaian dan harmoni di Australia dan hubungan Australia dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Poin penting yang dihasilkan melalui diskusi-diskusi, akan dituangkan dalam Deklarasi Brisbane. [** SN]

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 19, 2009 in 15928677

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: