RSS

Cemburu Buta Menuai Bencana

21 Jan
Bilik PUAN

Cemburu Buta Menuai Bencana

Pengalaman Pendampingan
Puan Amal Hayati Cipasung, Tasikmalaya

Hari menjelang maghrib ketika tiba-tiba datang seorang ibu ke kantor Puspita Puan Amal Hayati (PAH) Cipasung dengan tergopoh-gopoh. Saat itu kantor yang terletak di dalam kompleks Pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat sudah tutup. Namun demikian, PUAN tetap membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Perempuan paroh baya itu, sebut saja Ibu Sari, wajahnya nampak pucat, dan dengan terbata-bata menyampaikan maksud kedatangannya. Sambil meminum tehnya, Ibu Sari menceritakan bahwa ia dituduh melakukan perzinahan dan kasusnya sedang diproses di Polsek Singaparna. Pelapornya, tidak lain dan tidak bukan, adalah Pak Basuki (bukan nama sebenarnya), suaminya sendiri.

Oleh karena waktu sudah malam, PUAN mempersilahkannya untuk beristirahat di shelter (rumah aman) yang memang tersedia. Di PAH Cipasung tersedia dua shelter, satu untuk remaja putri dan satu lagi untuk ibu-ibu. Ibu Sari bersedia bermalam di shelter, bahkan ia mengatakan, kalau memungkinkan, untuk sementara waktu ingin tinggal di shelter PUAN, karena Pak Basuki terus mencari dirinya.

Keesokan harinya, PUAN mendengarkan cerita Ibu Sari tentang kasus yang menimpanya. Menurutnya, rumah tangga yang dibinanya dengan Pak Basuki, dan sudah berlangsung selama belasan tahun, awalnya berjalan baik, penuh dengan kebahagiaan dan telah dikaruniai dua orang anak. Anak pertama, perempuan berumur 14 tahun dan sudah lulus SD, sedang anak kedua berumur 10 tahun dan masih duduk di bangku kelas 5 SD. Sebagaimana lazimnya kehidupan berumah tangga, kadang-kadang terjadi cekcok kecil yang kemudian dapat diselesaikan dengan baik. Cekcok kecil memang lumrah terjadi dalam sebuah rumah tangga, bahkan menurut kebanyakan orang, akan menambah harmonisnya rumah tangga. Tapi keharmonisan rumah tangga Ibu Sari dan Pak Basuki ternyata tidak berlangsung lama.

Keadaan ekonomi rumah tangga Ibu Sari dan Pak Basuki kian morat-marit. Kelangsungan hidup rumah tangga mereka hanya berasal dari penghasilan Ibu Sari yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS), yaitu menjadi guru di Taman Kanak-kanak. Sedang Pak Basuki bekerja serabutan, sehingga penghasilannya tidak menentu. Ketika tidak memiliki uang, seringkali Pak Basuki menggadaikan SK PNS Ibu Sari. Ironisnya, SK PNS itu harus ditebus sendiri oleh Ibu Sari yang sama sekali tidak tahu kemana larinya uang hasil penggadaian tersebut. Yang jelas uang itu tidak dipergunakan untuk membiayai kehidupan rumah tangganya.

Selain itu, Pak Basuki juga sering berhutang uang kepada tetangganya dan Ibu Sari juga yang diminta melunasi hutangnya. Perilaku Pak Basuki yang seperti ini semakin menambah morat-marit kondisi ekonomi keluarga. Akibatnya mereka tidak mampu membiayai anaknya yang pertama untuk melanjutkan sekolah ke SMP. Terpaksa ia harus putus sekolah.

Tidak hanya itu saja. Menurut Ibu Sari, dalam rumah tangganya telah terjadi berbagai macam tindak kekerasan, seperti kekerasan fisik yang berupa penyiksaan, kekerasan psikis yaitu ancaman, dan kekerasan seksual yaitu melakukan hubungan intim dengan cara paksa. Walau dalam keadaan sakit, Ibu Sari dipaksa melayani hasrat Pak Basuki. Ibu Sari menggambarkan bahwa dalam rumah tangganya, tiada hari tanpa kekerasan, sehingga ia merasa tidak nyaman berada di tengah keluarganya sendiri.

Ia kemudian berkonsultasi kepada orang pintar, yaitu seorang laki-laki yang sebut saja namanya Fulan. Usia Fulan sedikit lebih tua dari Ibu Sari, dan dikenal luas sebagai orang pintar dalam bidang pengobatan secara ‘tradisional’ dan melayani konsultasi dalam berbagai permasalahan, terutama dalam masalah spiritual. Fulan dengan terbuka mendengarkan keluh kesah yang disampaikan Ibu Sari. Selanjutnya Fulan memberinya beberapa resep berupa wiridan dengan harapan rumah tangganya kembali tenang dan bahagia.

Cemburu
Ibu Sari berkonsultasi kepada Fulan tidak hanya satu atau dua kali saja, tapi berkali-kali; mungkin karena merasa menemukan teman yang dapat diajak berbagi cerita tentang permasalahan yang dihadapinya. Oleh karena begitu seringnya Ibu Sari berkonsultasi kepada Fulan, akhirnya timbulah rasa cemburu dari Pak Basuki.

Akibat terbakar rasa cemburu, Pak Basuki semakin sering memukul isterinya. Ia juga semakin sering memaksa isterinya untuk berhubungan intim. Ibu Sari berusaha menolak, karena dalam pikirannya selalu terbayang tindak kekerasan yang dialaminya. Namun Pak Basuki tidak peduli, pokoknya isteri harus melayani suami. Titik.

Suatu ketika, Pak Basuki mendapat informasi bahwa Ibu Sari bersama Fulan menginap di rumah kakaknya. Mendapat informasi seperti itu, Pak Basuki menjadi kalap. Bersama teman-temannya, ia menginterogasi Fulan secara beramai-ramai. Fulan didesak agar mengakui bahwa ia telah melakukan zina dengan Ibu Sari. Fulan tergagap dan terpojok pada posisi yang sulit. Kalau tidak mengikuti apa yang diinginkan Pak Basuki dan teman-temannya, ia khawatir terjadi tindakan anarkis. Tetapi kalau mengikuti apa yang diinginkan oleh mereka, tidak seiring dengan suara hati nuraninya. Dengan sisa nyalinya yang semakin menipis, Fulan dengan tegas mengatakan bahwa antara dirinya dan Ibu Sari tidak terjadi apa-apa, apalagi perzinahan. Ia bersedia membuat surat pernyataan di atas materai yang menyatakan bahwa jika dirinya terbukti melakukan zina dengan Ibu Sari atau masih berusaha mendekatinya, maka ia bersedia membayar denda sebesar seratus juta rupiah. Tidak jelas apakah Fulan bersedia membuat surat pernyataan itu karena ditekan oleh Pak Basuki dan teman-temannya atau karena kesadarannya sendiri. Selain ditandatangani oleh Pak Basuki dan Fulan sebagai pihak-pihak yang bersengketa, surat pernyataan itu juga ditandatangani oleh para saksi yang terdiri dari tokoh masyarakat, ketua RT dan ketua RW, di wilayah tempat pertemuan itu berlangsung.

Disekap
Walaupun surat pernyataan itu sudah ditandatangani, namun hubungan Fulan dan Ibu Sari tetap terjalin dengan baik. Bahkan keduanya merencanakan untuk berziarah ke makam Syekh al-Muhyi di Pamijahan, Tasikmalaya. Makam Syekh al-Muhyi dikenal luas oleh masyarakat sebagai tempat keramat, oleh karena itu setiap malam Jumat manis banyak orang, bahkan dari luar Tasikmalaya, datang berziarah untuk memanjatkan doa kepada Allah agar segala keinginannya dikabulkan.

Hari kamis selepas dhuhur, Ibu Sari dan Fulan berangkat ke Pamijahan untuk berziarah dengan naik mobil angkutan umum. Perjalanan menuju tempat tersebut membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Namun sungguh naas, di tengah jalan, mereka kepergok Pak Basuki. Menyaksikan hal tersebut, Pak Basuki menjadi geram. Wajahnya merah padam, gesekan giginya berbunyi krek, krek….. dan tangannya mengepal menahan amarah. Tanpa berpikir panjang, Pak Basuki menarik tangan isterinya dengan paksa dan mengajaknya pulang. Ibu Sari meronta sekuat tenaga untuk melepas cengkeraman tangan Pak Basuki, tapi tidak berhasil. Tenaganya kalah kuat dibanding tenaga Pak Basuki. Orang-orang yang melihat kejadian itu hanya bengong, tidak bisa berbuat apa-apa.

Pak Basuki kemudian menyekap Ibu Sari di dalam kamar dan menguncinya dari luar selama seminggu. Untuk keperluan makan-minum, Ibu Sari dilayani oleh anak sulungnya yang perempuan umur 14 tahun. Hampir tiap hari Pak Basuki menengoknya, namun dengan tujuan hanya untuk melampiaskan hasrat seksualnya. Sebenarnya hatinya sudah sangat sebal untuk melayani hubungan seksual tersebut, tapi kalau ditolak, Pak Basuki akan menjadi beringas dan garang. Sudah berapa kali pukulan, tempelengan, dan tendangan mendarat di pipi dan tubuhnya.

Tepat di hari ke tujuh, putrinya tidak kuat lagi melihat penderitaan dan siksaan yang menimpa ibunya. Ia resah dan gelisah. Hatinya bergelora, semangatnya bangkit untuk mencari jalan keluar agar penderitaan dan siksaan yang dialami ibunya segera berakhir. Ia berpikir keras, jalan keluar seperti apa yang harus dilakukannya. Akhirnya ia memberanikan diri untuk melaporkan kasus yang menimpa ibunya kepada polisi. Kebetulan di dekat rumahnya terdapat kantor polisi sektor Singaparna. Dengan mengendap-ngendap, ia melompat lewat jendela agar bisa keluar dari rumah. Cara seperti ini dilakukan, karena setiap dirinya atau adiknya mau keluar rumah, Pak Basuki selalu curiga dan bertanya mau ke mana dan untuk apa? Kalau jawabannya dianggap tidak masuk akal atau dianggap kurang penting oleh Pak Basuki, maka tidak diizinkan keluar rumah.

Di polsek, anak sulung Ibu Sari segera melaporkan kepada petugas polisi yang piket bahwa ibunya sudah seminggu disekap di dalam kamar dan diperlakukan secara kasar, seperti dipukul dan ditempeleng. Atas dasar laporan tersebut, polisi segera membuat berita acara tentang tindak kekerasan yang dialami oleh seorang perempuan. Namun ternyata, laporan tersebut tidak ada kelanjutannya. Pak Basuki tidak pernah dipanggil polisi terkait tindak kekerasan yang dilakukannya.

Sebaliknya, beberapa hari setelah itu, Pak Basuki —dengan bantuan seorang pengacara— melaporkan bahwa istrinya telah melakukan perzinahan dengan Fulan. Bukti yang disodorkan oleh Pak Basuki adalah surat pernyataan Fulan yang di dalamnya disebutkan bahwa tidak akan mendekati Ibu Sari dan kalau melanggar bersedia membayar denda sebesar seratus juta. Ibu Sari segera dipanggil guna diperiksa sebagai tersangka. Mengetahui bahwa dirinya telah dilaporkan oleh suaminya melakukan perzinahan dan dengan tuduhan itu, ia ditetapkan sebagai tersangka, Ibu Sari berpikir keras, siapa kira-kira yang dapat membantu dirinya menyelesaikan kasus ini. Akhirnya, Ibu Sari memutuskan untuk meminta bantuan kepada PUSPITA Puan Amal Hayati Cipasung.

Pendampingan
Setelah kasus ibu Sari dipelajari secara mendalam, PUAN mengambil langkah-langkah penanganan kasus. PUAN menyadari bahwa kasus ini tidak dapat ditangani sendiri, tapi harus ditangani secara bersama-sama, berjejaring dengan lembaga lain yang memiliki perhatian terhadap perempuan korban kekerasan. Apalagi Pak Basuki dalam melaporkan kasus perzinahan yang dituduhkan kepada Ibu Sari menggunakan jasa pengacara.

Langkah-langkah yang dilakukan PUAN dalam menangani kasus yang menimpa Ibu Sari sebagai berikut:

Pertama: konseling, PUAN mendengarkan secara baik cerita yang diungkapkan Ibu Sari dan memotivasinya agar Ibu Sari dapat menentukan sendiri cara apa yang akan ditempuh untuk menyelesaikan kasusnya. Konseling terhadap Ibu Sari dilakukan PUAN dengan cara tatap muka.

Kedua
, mendampingi Ibu Sari untuk melakukan negosiasi dengan pimpinan tempatnya bekerja agar diberi kesempatan untuk menyelesaikan kasus yang dihadapinya. Di samping itu, Ibu Sari takut peristiwa penyekapan yang menimpa dirinya kembali terulang, karena nampaknya Pak Basuki masih mengintai dan menghadangnya kalau pergi ke tempat kerja. Semula sang pimpinan keberatan untuk mengabulkan permohonannya, namun setelah dijelaskan secara panjang lebar tentang kasus yang dihadapi Ibu Sari, akhirnya permohonannya dikabulkan.

Ketiga, advokasi hukum, yang ditangani langsung oleh bagian advokasi PUSPITA PUAN Amal Hayati Cipasung. Kebetulan salah satu anggota divisi advokasi, adalah seorang pengacara yang tentu berkompeten menangani kasus-kasus yang berkaitan dengan hukum. Advokasi hukum pertama yang dilakukan adalah mengupayakan damai dengan pihak Pak Basuki. Setelah melalui negosiasi yang alot, akhirnya tuntutan Pak Basuki terhadap Fulan dicabut. PUAN bersyukur karena kasus yang menimpa Fulan dapat diselesaikan secara damai.

Advokasi hukum yang kedua adalah mendampingi Ibu Sari menghadap pihak kepolisian. Dalam hal ini, Ibu Sari didampingi oleh konselor PUAN dan seorang pengacara. Pendampingan ini dilakukan sampai penandatanganan berita acara pemeriksaan (BAP) selesai. Sebagai langkah perlawanan secara hukum, Ibu Sari akan melaporkan Pak Basuki karena tindak kekerasan yang dilakukannya.

Sekarang proses hukum sedang berlangsung, semoga keadilan dapat ditegakkan dengan tidak membeda-bedakan jenis kelamin dan tidak terjadi bias gender. Perempuan juga sama dengan laki-laki, mereka memiliki hak untuk memperoleh keadilan dan perlindungan hukum.

Hambatan
Sebagai penutup kisah pendampingan yang satu ini, kami kutipkan sebuah riwayat Nabi Muhammad SAW; beliau suatu ketika pernah marah tatkala memergoki seorang suami sedang memukul istrinya. Rasulullah menghardik, “Mengapa kau pukul istrimu?”. Sahabat itu dengan gemetar menjawab, “Istri saya sangat keras kepala, walaupun sudah diberi nasihat dengan lidah. Jadi saya pukul dia”. Rasulullah menukas, “Aku tidak menanyakan alasanmu. Aku hanya bertanya, mengapa kau pukul teman tidurmu dan ibu anak-anakmu!?”

Hadits tersebut diatas, mengajarkan kepada kita betapa Nabi telah begitu banyak memberikan contoh agar memperlakukan kaum perempuan dengan cara-cara yang ma`ruf. Namun tuntunan Rasulullah yang ini kurang dihayati oleh mayoritas umat Islam. Padahal kalau dipelajari, budaya yang dipraktikkan oleh masyarakat Islam seharusnya mencerminkan nilai-nilai yang menghargai dan menghormati perempuan. Jika ini menjadi kenyataan, kita tidak akan menemukan berbagai tindak kekerasan yang menimpa perempuan. Paling tidak, jumlahnya tidak sebanyak seperti sekarang. Wallahu a’lam [***]eng

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 21, 2009 in Vol. 4, 2008

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: