RSS

MENCARI KITAB RAMAH PEREMPUAN

21 Jan

Dra. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M. Hum.**

gd Beberapa saat lalu, saya diundang Hilma Annisa, sebuah pusat pelayanan dan pendampingan bagi perempuan atau biasa disebut WCC di Sibreh Aceh Besar. Kunjungan ini semakin meyakinkan saya, betapa pentingnya melakukan pembacaan ulang atas teks-teks keagamaan, khususnya fikih, sebab ber-bagai persoalan perempuan tidak bi-sa lepas dari hukum fikih.

Seorang perempuan korban keke-rasan seksual yang dilakukan anggota keluarganya, misalnya, tidak berani mengadukan kasusnya karena dalam pandangan mereka, agama tidak membolehkan membuka aib keluarga sendiri. Tanpa melakukan kajian ulang atas pandangan seperti ini, kita hanya akan menyaksikan betapa agama digunakan sebagai alat pembenar dan sekaligus tempat berlindung banyak sekali kezaliman.


Tanpa melakukan kajian ulang, saya khawatir hukum fikih akan menjadi tiran bagi perempuan. Untuk itulah, saya kembali mengajak teman-teman di lembaga saya, Puan Amal Hayati, melanjutkan kajian teks fikih.
Kali ini Puan dan Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) akan mengkaji kitab Matan Taqrîb Abu Syujâ’ fî Fiqhi asy-Syâfi‘î atau biasa disebut Kitab Taqrib. Kitab ini memuat tema standar dalam pembahasan fikih dari bab air dan bersuci sampai bab jihad. Dipastikan dalam bab-bab yang dibahas kitab ini memuat isu-isu yang sangat erat kaitannya dengan perempuan seperti dalam bab nikah, hukum warisan serta tata cara ibadah bagi lelaki maupun perempuan baik dalam salat, puasa, haji dan sebagainya.


Dilihat dari sisi ini, kitab ini sangat menarik untuk dikaji ulang dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat esensial bagi studi gender; adakah perbedaan yang termaktub dalam kitab itu benar-benar didasarkan pada asumsi yang “benar” dalam arti tidak bias gender? Apakah dasar-dasar pemikiran yang digunakan untuk meletakkan posisi perempuan diperhadapkan dengan lelaki dan melahirkan sebuah hukum fikih itu berangkat dari asumsi miring sehingga hasilnya tidak diskriminatif terhadap perempuan? Inilah antara lain kerangka berfikir dalam kajian ini. Sangat jelas memang, kajian ini berangkat dari sebuah pendekatan “kecurigaan” atau suspicious approach, sebuah pendekatan yang lazim digunakan dalam kajian teks atau content analisis, utamanya dalam kajian gender.


Sebenarnya kitab ini terbilang sederhana.
Jumlah halaman kitab ini tak terlalu tebal, tak lebih dari 50 halaman. Tetapi sebagai kitab rujukan pengaruhnya sangat luas di negara-negara berpenduduk Muslim di dunia. Kitab ini dapat dikatakan sebagai kitab ‘babon’ untuk fikih Islam.

Kitab ini dikarang oleh ulama Iran Qadli Abu Syujâ’ Ahmad bin al-Husein bin Ahmad al-Isfahani (434-593 H). Ditulis secara ringkas, karenanya kitab ini dianggap sebagai kitab fikih yang mudah dipelajari dan dihapal. Berbeda dengan kitab Uqud al lujain yang telah lebih dulu dibahas oleh FK3, kitab ini didalamnya tidak memberikan banyak pilihan pendapat melainkan menyajikannya sebagai fat-wa fikih yang definitif dari mazhab Syafi’i.

Dalam perjalanannya, terbitnya kitab ini disambut meriah oleh kala-ngan pengikut mazhab Syafii. Ini termanifestasi dari lahirnya kitab-kitab lain sebagai anotasi atas kitab tersebut. Syaikh al-Imam al-‘Alim al-‘Alamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim asy-Syafii, misalnya, mengomentari teks Matan Abu Syuja’ ini dengan menulis Fath al-Qarib. Sementara Syaikh Ibrahim al-Baijuri, mengarang Hâsyiyah al-Bai-juri ‘alâ Ibn Qasim, sebagai komentar lebih lanjut atas Fath al-Qarib.

Di Indonesia, kalangan pesantren Salafiyah sejak lama menyambut kitab ini dengan memasukannya dalam kurikulum mata pelajaran fikih sejak tingkat Tsanawiyah (SMP) sampai tingkat yang lebih tinggi. Tak pelak kitab ini dapat dikatakan sebagai kitab fikih yang paling populer dan menjadi rujukan para santri di pesantren dan masyarakat. Bahkan pada abad ke-15/17 M, kitab ini menjadi sumber rujukan para sultan dan penguasa Islam dalam membentuk semacam Undang-Undang Dasar dan menjalankan hukum positif pemerintahannya. Kitab ini pula dalam sejarah gerakan NII, yang dijadikan referensi utama Qanun Asasi (UUD) Negara Islam Indonesia (NII) yang diproklamasikan S.M. Kartosuwiryo, 7 Agustus 1949. Hasyiyah (penjelasan atas penjelasan) dari kitab taqrib juga menjadi salah satu dari 13 kitab yang ditetapkan menjadi pedoman para hakim Peradilan Agama dalam menetapkan dan memutuskan perkara, sebelum lahirnya Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia.

Bagi PUAN, kajian kitab ini merupakan rangkaian dari kegiatan sebelumnya atas kitab yang dibaca di pesantren yaitu ‘Uqud Al-Lujain yang melahirkan 3 buah buku, yakni buku tafsir baru Uqud al-Lujain dalam versi bahasa Arab, buku Wajah Baru Relasi Suami Istri dan buku Kembang Setaman Perkawinan. Ketiga buku ini merupakan hasil kajian kritis dan tafsir kontekstual terhadap kitab Uqud al-Lujain yang selama ini dianggap bias jender. Melalui buku-buku ini, FK3 menawarkan cara baca baru dengan menawarkan pilihan pemahaman tentang relasi lelaki dan perempuan tanpa meninggalkan kitabnya.

Selain untuk kepentingan akademis, kajian teks ini diharapkan dapat memberi sumbangan langsung dalam meletakkan posisi perempuan dalam banyak aspek kehidupan, utamanya keluarga Muslim. Bukankah sejak mereka lahir, menempuh masa remaja, menikah, dan berkeluarga, semuanya tak lepas dari aturan-aturan agama yang termuat dalam hukum fikih? Demikian pula yang berkaitan dengan hak-hak yang semestinya mereka peroleh sejak mereka menjadi anak perempuan, isteri, atau anggota masyarakat. Bukankah fikih juga yang dengan sangat rinci mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh perempuan, seberapa banyak hak yang mereka peroleh ketika menjadi istri, atau ibu atau anak ketika menerima warisan. Jika terjadi sengketa dalam keluarga atau terjadi perceraian, seberapa luas mereka dan anak-anak memeroleh hak-haknya paska perkawinan? Muara dari seluruh pertanyaan itu adalah, adilkah itu semua bagi perempuan?

Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama, hasil kajian ini beredar di masyarakat sebagai upaya saya bersama tim FK3 menjawab persoalan yang saya temukan ketika saya ke daerah sebagaimana pula ketika saya berkunjung ke Aceh. [**]

*) Tulisan pernah dimuat di KOMPAS, Senin, 11 Juni 2007

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 21, 2009 in Vol. 4, 2008

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: