RSS

IBUku, ISTRIku dan ANAKku Seorang Perempuan

08 Apr

anak asuh 2 copy

IBUku, adalah perempuan yang melahirkanku dan saudara-saudaraku.
IBUku yang mengasuhku dan mendidikku dari lahir sampai aku dewasa.
ISTRIku, adalah perempuan yang melahirkan anak-anakku.
ISTRIku yang mengasuh dan mendidik anak-anakku dari lahir sampai dewasa.
ANAKku perempuan, kelak akan menjadi seorang ISTRI dan IBU yang melahirkan, mengasuh dan mendidik anak-anaknya dari lahir sampai dewasa.

Paradigma

Perempuan memang diakui adalah makhluk yang lemah, lembut dan gemulai. Perempuan hanya di tempatkan di belakang –bathur wingking— yang hanya mengurusi masalah kasur, dapur dan sumur. Kadangkala tidak memandang kasta keluarga, mau dari golongan elite sampai yang kere sekalipun. Perempuan hanya di jadikan pemuas nafsu laki-laki ditempat tidur/kasur, dan sebagai bathur, yang mengururi dapur dan sumur.

Ibu Nuriyah: Sudah punya anak berapa, Bu?”
Peserta: “Dua, laki-laki dan perempuan.
Ibu Nuriyah: “Dua-duanya masih pada sekolah?”
Peserta: “Yang laki-laki masih kuliah, yang perempuan bantu saya di rumah ?”
Ibu Nuriyah: “Lho kok begitu, kenapa anak perempuan ibu tidak disekolahkan juga?”
Peserta: “karena nantinya juga akan menjadi ibu rumah tangga seperti saya…“

(Penggalan dialog Ibu Sinta Nuriyah dengan masyarakat Pabedilan, Cirebon dalam acara Ngaji Bangsa 28 April 2008)

Pandangan yang masih ada di masyarakat bahwa: perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, tidak penting, yang penting bisa ngurus suami dan anak, masak dan nyuci..” Pandangan yang lain adalah: “jika perempuan harus sekolah tinggi, maka setelah tamat sekolah harus mendapatkan pekerjaan yang baik, jika tidak mendapatkan pekerjaan dan bisa mencari duit sendiri, untuk apa susah-susah sekolah tinggi dan hanya buang-buang uang saja, tapi tetap kembali ke DAPUR.”

Pandangan seperti inilah yang membuat masyarakat harus memilih/berspekulasi, dan akhirnya memilih aman –tidak menyekolahkan anak perempuan— daripada rugi buang-buang uang. Padahal, hal yang sangat luar biasa dibebankan kepada seorang perempuan secara tidak disadari.

Pendidikan Perempuan

Lalu, perlukah SIMBOKku, ISTRIku, ANAKku perempuan mendapatkan pendidikan sekolah tinggi. Padahal, pendidikan sekolah paling dini bagi seorang anak, adalah pendidikan dari seorang ibu. Apakah memang mengurus sebuah rumah tangga, mengasuh dan mendidik anak-anak sejak dini itu pekerjaan yang mudah dan sepele, sehingga tidak perlu sekolah tinggi-tinggi?

Bagi Bangsa Indonesia yang sedang berkembang, pemberdayaan perempuan melalui pendidikan adalah investasi asset bangsa. Pendidikan perempuan adalah pilar (sokoguru) keluarga dan bangsa. Ia sekaligus merupakan pemotong rantai kemiskinan keluarga, banyak alasan kenapa begitu pentingnya pendidikan perempuan, salah satunya adalah kualitas dari genersi bangsa mendatang sangat tergantung dari kualitas pendidikan sang ibu. pendidikan anak-anak dimulai sejak lahir lebih banyak dilakukan oleh ibu.

Diakui, kebijakan pemerintah tentang program wajib belajar 9 tahun untuk pendidikan dasar dapat meningkatkan partisipasi pendidikan anak-anak Indonesia. Pemerintah juga sudah memiliki niat politik yang baik (political will) untuk mengalokasikan anggaran pendidikan hingga mencapai 20 persen.

Namun demikian, kesenjangan partisipasi pendidikan perempuan dan laki-laki yang selama ini menjadi salah satu masalah kesenjangan jender (gender imbalance) dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia masih belum terkurangi. Pendidikan bagi anak perempuan belum menjadi prioritas sebagaimana halnya pendidikan bagi anak laki-laki.

Hasil survei yang dilakukan oleh Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006 merekam kesenjangan yang cukup tajam dalam pemberian kesempatan untuk mengenyam pendidikan bagi laki-laki dan perempuan. Di perkotaan angka putus sekolah (APS) dengan alasan tidak ada biaya lebih banyak terjadi pada anak perempuan (33%) daripada anak laki-laki (31%). Artinya, ketiadaan dana orang tua untuk menyekolahkan anak perempuan lebih menonjol daripada untuk menyekolahkan anak laki-laki.

Periode sekolah bagi anak perempuan, baik di perdesaan maupun di perkotaaan, secara rata-rata, lebih pendek daripada anak laki-laki. Anak perempuan di perkotaan hanya bersekolah rata-rata selama 6,7 tahun dan di perdesaan selama 5,7 tahun. Sementara rata-rata pendidikan anak laki-laki di perkotaan adalah 9,5 tahun dan di perdesaan sekitar 8,5 tahun.

Kesenjangan ini berakibat: pertama, angka buta huruf anak perempuan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki. Kesenjangan buta huruf perempuan dengan laki-laki terjadi pada usia 15 tahun dan usia 45 tahun ke atas. Pada usia 15 tahun, sebanyak 11,6% perempuan buta huruf, sedangkan laki-laki sebanyak 5,4%. Pada usia 45 tahun ke atas, perempuan yang buta huruf sebanyak 29%, sedangkan laki-laki ‘hanya’ 13%.

Kedua, anak perempuan yang bisa menamatkan SLTA/sederajat dan perguruan tinggi juga lebih sedikit jika dibandingkan dengan anak laki-laki. Fenomena lainnya, anak perempuan akan menjadi korban dari praktek pernikahan dini dan korban dari norma masyarakat yang merugikan perempuan misalnya pandangan bahwa anak perempuan lebih diperlukan dalam membantu menyelesaikan tugas sehari-hari di rumah dan setelah menikah nantinya akan menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurusi masalah dapur, sumur, dan kasur. Sedangkan anak laki laki menjadi kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab yang lebih besar dan diharapkan akan menopang kelangsungan hidup keluarga.

Fakta-fakta di atas tentunya menjadi tantangan bagi tersedianya sumber daya perempuan yang berkualitas. Ini berarti, bagi anak perempuan, kesempatan untuk bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan menempati posisi yang menentukan di berbagai sektor juga lebih kecil jika dibandingkan dengan anak laki-laki.

Beasiswa

Pemberian beasiswa pendidikan merupakan wujud perluasan kesempatan pendidikan bagi perempuan. Kesempatan yang tentu saja tidak hanya ditentukan banyaknya jenis institusi dan aneka ragam program di dalamnya melainkan seberapa mudah fasilitas itu dicapai semua segmen dalam masyarakat khususnya perempuan sebagai individu. Oleh karena itu, strategi implementasi program beasiswa untuk memperluas akses bagi pendidikan perempuan merupakan langkah yang perlu di dukung semua pihak, pemerintah, masyarakat umum, maupun industri Perbaikan kuliatas pendidikan pada kaum perempuan merupakan strategi investasi jangka panjang untuk bangsa Indonesia yang siap memenangkan kompetisi di era globalisasi.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka penyediaan akses pendidikan gratis dan bantuan beasiswa merupakan salah satu program yang terintegrasi dalam kegiatan pemberdayaan perempuan yang dilakukan Puan Amal Hayati. Dalam skema penanganan;

a. Anak –anak perempuan kurang mampu, tidak dapat mendapatkan akses pendidikan yang layak, karena minimnya biaya yang dimiliki.
b. Anak-anak perempuan berprestasi, yang masih membutuhkan biaya untuk menunjang pendidikannya, sehingga bisa menyelesaikan/menuntaskan pendidikan.
c. anak-anak perempuan yang menjadi korban kekerasan,
d. anak-anak dari ibu-ibu yang rumah tangganya berantakan (broken home), ketika terjadi perceraian dalam rumah tangga, maka hak asuh anak biasanya dibebankan kepada istri, dimana kondisi istri selama ini hanya mengandalkan pemberian “jatah” dari sang suami.
e. Sementara perempuan-perempuan dewasa yang mengalami kekerasan juga masih bisa diikutkan dalam berbagai program pendidikan informal khas pesantren seperti pengajian, baca tulis al-Qur’an dan aksara latin, serta pendidikan keterampilan lainnya.

Program bantuan beasiswa ini sudah dijalankan oleh PUAN sejak berdirinya tahun 2000. Walaupun memang jumlahnya masih belum signifikan. Hal ini terkait dengan dana yang masih terbatas. PUAN menyadari betul akan kapasitasnya dan betapa kompleksnya permasalahan yang ada di dunia pendidikan pada umumnya, sehingga tidak dapat bergerak sendirian untuk memperbaiki akses terhadap pendidikan perempuan di Indonesia.

Agar tujuan tersebut dapat diwujudkan, maka harus ada dukungan dari berbagai pihak dan masyarakat luas untuk bergerak bersama guna membantu memecahkan permasalahan ini dengan menyisihkan sedikit penghasilannya.

Melalui “Telaga Kasih PUAN” sebagai salah satu program penggalangan dana untuk pendidikan perempuan di Indonesia diharapkan dapat mendorong dan menumbuhkan semangat untuk saling membantu antar sesama, terutama dalam hal pendidikan bagi anak perempuan.

IBUku, adalah perempuan yang melahirkanku dan saudara-saudaraku.

IBUku yang mengasuhku dan mendidikku dari lahir sampai aku dewasa.

ISTRIku, adalah perempuan yang melahirkan anak-anakku.

ISTRIku yang mengasuh dan mendidik anak-anakku dari lahir sampai dewasa.

ANAKku perempuan, kelak akan menjadi seorang ISTRI dan IBU yang melahirkan, mengasuh dan mendidik anak-anaknya dari lahir sampai dewasa.

Paradigma

Perempuan memang diakui adalah makhluk yang lemah, lembut dan gemulai. Perempuan hanya di tempatkan di belakang –bathur wingking— yang hanya mengurusi masalah kasur, dapur dan sumur. Kadangkala tidak memandang kasta keluarga, mau dari golongan elite sampai yang kere sekalipun. Perempuan hanya di jadikan pemuas nafsu laki-laki ditempat tidur/kasur, dan sebagai bathur, yang mengururi dapur dan sumur.

Ibu Nuriyah: Sudah punya anak berapa, Bu?”

Peserta: “Dua, laki-laki dan perempuan.

Ibu Nuriyah: “Dua-duanya masih pada sekolah?”

Peserta: “Yang laki-laki masih kuliah, yang perempuan bantu saya di rumah ?”

Ibu Nuriyah: “Lho kok begitu, kenapa anak perempuan ibu tidak disekolahkan juga?”

Peserta: “karena nantinya juga akan menjadi ibu rumah tangga seperti saya…“

(Penggalan dialog Ibu Sinta Nuriyah dengan masyarakat Pabedilan, Cirebon dalam acara Ngaji Bangsa 28 April 2008)

Pandangan yang masih ada di masyarakat bahwa: perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, tidak penting, yang penting bisa ngurus suami dan anak, masak dan nyuci..” Pandangan yang lain adalah: “jika perempuan harus sekolah tinggi, maka setelah tamat sekolah harus mendapatkan pekerjaan yang baik, jika tidak mendapatkan pekerjaan dan bisa mencari duit sendiri, untuk apa susah-susah sekolah tinggi dan hanya buang-buang uang saja, tapi tetap kembali ke DAPUR.”

Pandangan seperti inilah yang membuat masyarakat harus memilih/berspekulasi, dan akhirnya memilih aman –tidak menyekolahkan anak perempuan— daripada rugi buang-buang uang. Padahal, hal yang sangat luar biasa dibebankan kepada seorang perempuan secara tidak disadari.

Pendidikan Perempuan

Lalu, perlukah SIMBOKku, ISTRIku, ANAKku perempuan mendapatkan pendidikan sekolah tinggi. Padahal, pendidikan sekolah paling dini bagi seorang anak, adalah pendidikan dari seorang ibu. Apakah memang mengurus sebuah rumah tangga, mengasuh dan mendidik anak-anak sejak dini itu pekerjaan yang mudah dan sepele, sehingga tidak perlu sekolah tinggi-tinggi?

Bagi Bangsa Indonesia yang sedang berkembang, pemberdayaan perempuan melalui pendidikan adalah investasi asset bangsa. Pendidikan perempuan adalah pilar (sokoguru) keluarga dan bangsa. Ia sekaligus merupakan pemotong rantai kemiskinan keluarga, banyak alasan kenapa begitu pentingnya pendidikan perempuan, salah satunya adalah kualitas dari genersi bangsa mendatang sangat tergantung dari kualitas pendidikan sang ibu. pendidikan anak-anak dimulai sejak lahir lebih banyak dilakukan oleh ibu.

Diakui, kebijakan pemerintah tentang program wajib belajar 9 tahun untuk pendidikan dasar dapat meningkatkan partisipasi pendidikan anak-anak Indonesia. Pemerintah juga sudah memiliki niat politik yang baik (political will) untuk mengalokasikan anggaran pendidikan hingga mencapai 20 persen.

Namun demikian, kesenjangan partisipasi pendidikan perempuan dan laki-laki yang selama ini menjadi salah satu masalah kesenjangan jender (gender imbalance) dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia masih belum terkurangi. Pendidikan bagi anak perempuan belum menjadi prioritas sebagaimana halnya pendidikan bagi anak laki-laki.

Hasil survei yang dilakukan oleh Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006 merekam kesenjangan yang cukup tajam dalam pemberian kesempatan untuk mengenyam pendidikan bagi laki-laki dan perempuan. Di perkotaan angka putus sekolah (APS) dengan alasan tidak ada biaya lebih banyak terjadi pada anak perempuan (33%) daripada anak laki-laki (31%). Artinya, ketiadaan dana orang tua untuk menyekolahkan anak perempuan lebih menonjol daripada untuk menyekolahkan anak laki-laki.

Periode sekolah bagi anak perempuan, baik di perdesaan maupun di perkotaaan, secara rata-rata, lebih pendek daripada anak laki-laki. Anak perempuan di perkotaan hanya bersekolah rata-rata selama 6,7 tahun dan di perdesaan selama 5,7 tahun. Sementara rata-rata pendidikan anak laki-laki di perkotaan adalah 9,5 tahun dan di perdesaan sekitar 8,5 tahun.

Kesenjangan ini berakibat: pertama, angka buta huruf anak perempuan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki. Kesenjangan buta huruf perempuan dengan laki-laki terjadi pada usia 15 tahun dan usia 45 tahun ke atas. Pada usia 15 tahun, sebanyak 11,6% perempuan buta huruf, sedangkan laki-laki sebanyak 5,4%. Pada usia 45 tahun ke atas, perempuan yang buta huruf sebanyak 29%, sedangkan laki-laki ‘hanya’ 13%.

Kedua, anak perempuan yang bisa menamatkan SLTA/sederajat dan perguruan tinggi juga lebih sedikit jika dibandingkan dengan anak laki-laki. Fenomena lainnya, anak perempuan akan menjadi korban dari praktek pernikahan dini dan korban dari norma masyarakat yang merugikan perempuan misalnya pandangan bahwa anak perempuan lebih diperlukan dalam membantu menyelesaikan tugas sehari-hari di rumah dan setelah menikah nantinya akan menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurusi masalah dapur, sumur, dan kasur. Sedangkan anak laki laki menjadi kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab yang lebih besar dan diharapkan akan menopang kelangsungan hidup keluarga.

Fakta-fakta di atas tentunya menjadi tantangan bagi tersedianya sumber daya perempuan yang berkualitas. Ini berarti, bagi anak perempuan, kesempatan untuk bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan menempati posisi yang menentukan di berbagai sektor juga lebih kecil jika dibandingkan dengan anak laki-laki.

Beasiswa

Pemberian beasiswa pendidikan merupakan wujud perluasan kesempatan pendidikan bagi perempuan. Kesempatan yang tentu saja tidak hanya ditentukan banyaknya jenis institusi dan aneka ragam program di dalamnya melainkan seberapa mudah fasilitas itu dicapai semua segmen dalam masyarakat khususnya perempuan sebagai individu. Oleh karena itu, strategi implementasi program beasiswa untuk memperluas akses bagi pendidikan perempuan merupakan langkah yang perlu di dukung semua pihak, pemerintah, masyarakat umum, maupun industri Perbaikan kuliatas pendidikan pada kaum perempuan merupakan strategi investasi jangka panjang untuk bangsa Indonesia yang siap memenangkan kompetisi di era globalisasi.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka penyediaan akses pendidikan gratis dan bantuan beasiswa merupakan salah satu program yang terintegrasi dalam kegiatan pemberdayaan perempuan yang dilakukan Puan Amal Hayati. Dalam skema penanganan;

a. Anak –anak perempuan kurang mampu, tidak dapat mendapatkan akses pendidikan yang layak, karena minimnya biaya yang dimiliki.

b. Anak-anak perempuan berprestasi, yang masih membutuhkan biaya untuk menunjang pendidikannya, sehingga bisa menyelesaikan/menuntaskan pendidikan.

c. anak-anak perempuan yang menjadi korban kekerasan,

d. anak-anak dari ibu-ibu yang rumah tangganya berantakan (broken home), ketika terjadi perceraian dalam rumah tangga, maka hak asuh anak biasanya dibebankan kepada istri, dimana kondisi istri selama ini hanya mengandalkan pemberian “jatah” dari sang suami.

e. Sementara perempuan-perempuan dewasa yang mengalami kekerasan juga masih bisa diikutkan dalam berbagai program pendidikan informal khas pesantren seperti pengajian, baca tulis al-Qur’an dan aksara latin, serta pendidikan keterampilan lainnya.

Program bantuan beasiswa ini sudah dijalankan oleh PUAN sejak berdirinya tahun 2000. Walaupun memang jumlahnya masih belum signifikan. Hal ini terkait dengan dana yang masih terbatas. PUAN menyadari betul akan kapasitasnya dan betapa kompleksnya permasalahan yang ada di dunia pendidikan pada umumnya, sehingga tidak dapat bergerak sendirian untuk memperbaiki akses terhadap pendidikan perempuan di Indonesia.

Agar tujuan tersebut dapat diwujudkan, maka harus ada dukungan dari berbagai pihak dan masyarakat luas untuk bergerak bersama guna membantu memecahkan permasalahan ini dengan menyisihkan sedikit penghasilannya.

Melalui “Telaga Kasih PUAN” sebagai salah satu program penggalangan dana untuk pendidikan perempuan di Indonesia diharapkan dapat mendorong dan menumbuhkan semangat untuk saling membantu antar sesama, terutama dalam hal pendidikan bagi anak perempuan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 8, 2009 in Tantri

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: