RSS

MENGUJI UJI COBA RUU PORNOGRAFI

29 Mei

Oleh. Putu Wijaya

putu

Yang semula bernama RUU APP (Rencana Undang-Undang Anti Pornografi Pornoaksi) dan beberapa bulan lalu masih bernama RUU P (Rencana Undang-Undang Pornografi) telah menjadi bahan pertengkaran. Di tengah berbagai kesulitan hidup yang menerpa tak putus-putusnya, RUU tersebut sudah ikut membelah masyarakat dan bangsa Indonesia. Demo dari yang pro dan yang kontra terjadi di seluruh kawasan Nusantara. Tetapi seperti pelari marathon yang tangguh, RUU itu terus meluncur hendak menyarangkan dirinya di gawang pengesahan dari orang nomor satu Indonesia.

Mengambil tempat di Ruang Kartini, Kemeneg Pemberdayaan Perempuan, Rebo 17 September lalu, diadakan Uji Publik yang dibanjiri oleh para peminat yang tak semua diprkenankan masuk. Dimulai dengan penjelasan bagaimana perjalanan panjang RUU itu sampai ke draft ketiga, kini ditanggung tidak lagi akan menjegal kebebasan seniman, tidak akan menodai kebhinekaan adat dan tradisi, berpihak pada perempuan dan membela anak-anak. Saran-saran dan kritik sudah diserap dengan mengubah redaksi dan memperbaiki pasal-pasal yang kini dapat dianggap sebagai sudah menampung baik suara yang pro maupun yang kontra.

Penyair dan budayawan Taufiq Ismail kemudian membuka acara tanya jawab dengan dua lembar pendapatnya yang menjelaskan bagaiman bahayanya pornografi dan betapa rawannya sudah masyarakat Indonesia diobrak-abrik oleh jaringan yang memakai lokomotof neo-liberalisme itu. Aliran SMS (Sastra Mazhab Selangkang), angkatan FAK (Fiksi Alat Kelamin) dalam Gerakan Syahwat Merdeka telah membuat ”anak-anak kita jadi sasaran dan korban dalam skala sangat besar”. Empat koma dua juta situs porno dunia dan seratus ribu situs porno Indonesia di internet adalah bagian air bah pornografi yang merajalela karena adanya dukungan dari kelompok permisif dan adiktif.

Seniman tidak perlu mengeluh bila merasa terkekang karenanya,” tulis penyair penulis lirik lagu Panggung Sandiwara itu, ”Tuangkan kreativitas menggarap tema kemiskinan, kebodohan dan ketidak-adilan di negeri kita”. Ketiga tema besar ini jauh lebih urgen digarap bersama dan bermanfaat bagi bangsa, ketimbang tema syahwat yang destruksinya (bersama komponen-komponen lain) ternyata luar biasa.

Pembicara berikutnya mengkritik cara-cara melakukan uji coba yang dianggapnya tidak layak itu. Materi RUU yang hendak dibicarakan tidak digelar secukupnya sehingga mayoritas yang hadir tak memiliki apa yang mau dibicarakan. Definisi pornografi yang sejak awal sudah dianggap cacat dan biang pertikaian masih belum sempurna. Pasal-pasal yang kabur dan mengandung kemungkinan banyak interpretasi seharusnya dikupas satu per satu. Perempuan yang konon hendak dilindungi justru diancam dengan berbagai hukuman. Kemungkinan masyarakat berperan-serta di dalam pencegahan pornografi akan membuat pembenaran beberapa kalangan melakukan tindakan main hakim sendiri sebagai selama ini sudah kerap terjadi. ”RUU yang belum naik kelas ini mestinya dibicarakan secara terbuka bukannya buru-buru diresmikan,” ujarnya.

Kesan yang muncul dari pertemuan Uji Coba itu adalah bahwa pornografi memang harus dilawan, dibendung dan dihabisi karena sangat berbahaya. Tapi satu pihak menganggap bahwa jalan yang terbaik ke arah itu adalah dengan cepat-cepat mengesahkan RUU Pornografi yang sudah panjang perjalanannya itu. Pihak lain menyambut bahwa tidak seorang pun yang membela pornografi. Tetapi tanpa adanya RUU Pornografi pun, tindakan tegas pemberantasan pornografi sudah memiliki landasan hukum, tinggal eksekusi yang belum sungguh-sungguh secara jelas dan berkesinambungan dilakukan. Bagi mereka masalahnya bukan RUU-nya, tetapi rumusan RUU itu menjebak dan menggiring kearah mono kultur yang bertentangan dengan Bhinneka Tunggal Ika.

Persoalan pro dan kontra pornografi tidak sama dengan persoalan pro dan kontra RUU Pornografi. Yang pertama adalah masalah moral. Ini menyangkut ruang privat. Bila negara sudah ikut mengurusi ruang privat, sementara begitu banyak persoalan ruang publik yang terbengkalai, itu hanya akan berarti mengelakkan diri dari tanggungjawab yang sebenarnya. Ruang privat sudah ada pengaturnya sendiri yakni agama dan pendidikan. Mari kita percayakan kepada para pemukanya untuk membereskan iman dari para warganya. Kalau memang sudah terjadi kebejatan, baru kalau ulah pribadi itu sampai mengganggu ruang publik, negara bertindak. Dan sudah ada beberapa undang-undang yang dapat dijadikan landasan hukum untuk tindakan mengayomi rakyat itu. Kalau toh mau menambah dengan yang baru (RUU P) penambahan itu tidak boleh melepas isinya.

Sementara RUU Pornografi adalah taktik dan strategi negara dalam mengeksekusi tindakan pengamanan. Bila dalam hajat itu terjadi perbedaan pendapat, harus dibicarakan secara proporsional dan kepala dingin di mana letak perbedaannya. Tak ada kaitannya lagi dengan pro dan kontra pornografi, sebab pornografi memang sepakat mau dilawan. Jangan sampai kita salah pukul atau sengaja salah memukul. Apalagi digiring orang untuk bukan memukul yang hendak kita pukul, tetapi sesuatu yang seharusnya kita hormati bersama, misalnya keberagaman.

Uji coba mestinya diartikan duduk bersama dan saling mendengarkan. Mengupas satu per satu pasal-pasal RUU Pornografi di samping mengevaluasi mengapa kita masih memerlukan sebuah undang-undang lagi. Kalau memang kuat alasannya, mengapa tidak. Tetapi masyarakat berhak untuk diyakinkan. Tetapi kalau memang tidak perlu, karena masalahnya bukan belum ada atau kurang undang-undang tetapi hanya tidak ada tindakan pelaksanaan (memberantas pornografi), kenapa mesti membuat undang-undang baru? Jangan jangan ada udang di balik batu. Seperti ada penumpang gelap di dalam kasus RUU Pornografi ini. Untuk itu harus ada investigasi.

Selaku pribadi, saya sangat berterimakasih pada Taufiq Ismail yang mengingatkan serta meyakinkan saya bahwa pornografi adalah kejahatan yang terorganisir secara rapih sehingga bukan saja harus dilawan dengan keras tetapi juga cerdas, taktis dan lihai. Untuk itu jangan sampai langkah kita terbelokkan menjadi saling menikam, sehingga kita lalai bagaikan Niwatakawaca yang akhirnya terbunuh saat ketawa terbahak-bahak karena menang. Betul sekali, seniman tak perlu merasa terkekang, jangankan selangkangan dan syahwat, kemiskinan dan ketidakadilan tak boleh dibicarakan pun –seperti di masa Orde Baru– seniman yang kreatif masih tetap bisa menghasikan master piece. Untuk itu mari kita buat definisi pornografi yang afdol.

Juga saya harus berterima kasih pada mereka, saudara-saudara saya yang menentang RUU Pornografi dan melakukan demo di Bali, Papua dan sebagainya. Mereka mengingatkan saya bahwa kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya jangan sampai menjarah ruang privat. Apalagi bertindak main hakim sendiri terhadap apa yang tidak berkenan pada adat dan tradisi serta keyakinannya, karena itu menodai kesepakatan hidup damai berdampingan dalam perbedaan. Karena itu mari kita usir semua penumpang gelap yang ingin menyelusup di seluruh aspek kehidupan kita kedok apa pun yang dipakainya.

Bagi banyak orang RUU Pornografi generasi ketiga yang diuji coba masih memerlukan pembahasan panjang. Namun kini dia sudah ada di hadapan kita karena sudah lolos. Dia akan menjadi bagian dari kehidupan kita. Membelit dan mempreteli aktivitas kita. Di dalam Kongres Kebudayaan Indonesia di Bogor yang lalu, juga sudah banyak pertanyaan yang mesti segera dijawab. Bagaimana ”menyiasati” agar undang-undang yang memerlukan biaya besar dan proses tahun itu akan ”mengayomi” dan ”berguna” dan bukannya ”menyembelih” kebhinekaan yang sebenarnya merupakan rakhmat dan kebanggaan kita itu? —Jakarta akhir 2008—


Nama Lengkap:
I Gusti Ngurah Putu Wijaya
Tempat/Tgl. Lahir:
Puri Anom/11 April 1944
Pendidikan
SR, Tabanan (1956)
SMP Negeri, Tabanan (1959)
SMA-A, Singaraja (1962)
Fakultas Hukum UGM (1969)
ASRI dan Asdrafi, Yogyakarta
LPPM, Jakarta (1981)
International Writing Programme, Iowa, AS (1974) •••••••
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 29, 2009 in Vol. 1, 2009

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: