RSS

Menjembatani Kesenjangan Informasi Kesehatan Reproduksi

30 Mei

Oleh. Lies Marcoes Natsir, MA

coverKisah-kisah dari Lapangan

Ini kisah seputar mitos-mitos seksualitas, yang diperoleh dari pelatihan-pelatihan bagi motivator Aisyiyah. Dalam pelatihan motivator di Kendal, seorang ibu mengisahkan bahwa tak sedikit kaum ibu yang mengizinkan suaminya poligami. Penyebabnya karena sang isteri “malas” melakukan hubungan seks setelah mereka masuk ke masa menopause. Beredar kabar burung di kalangan mereka bahwa bagi perempuan yang telah menopause sebaiknya berpantang melakukan hubungan seks karena seks akan menyebabkan katarak.

Dalam pelatihan motivator di Serang, beberapa peserta menceritakan tentang praktek pemulihan keperawanan paska melahirkan dengan pemberian campuh. Campuh adalah abu gosok dari kayu tertentu yang diramu dengan berbagai bumbu dapur seperti kunyit, ketumbar bawang dan lada. Campuh itu kemudian dimasukan ke dalam vagina. Diyakini, cara ini dapat mempercepat pemulihan luka-luka paska melahirkan dan sekaligus mengembalikan vagina bak perawan lagi. Selain itu mereka percaya jenis sayuran genjer yang tumbuh liar di sawah dapat membuat rapuh rahim dan karenanya pantang dimakan oleh mereka yang sedang hamil muda atau pasca melahirkan. Dalam pelatihan berbeda namun masih terkait dengan seksualitas yang dilakukan PUAN di Madura, peserta meyakini khasiat tongkat Madura yang beredar luas di pasar tradisional terutama di penjual jamu. Seperti Campuh di Banten, tongkat Madura berfungsi sama yaitu menyerap cairan vagina dengan maksud agar suami mendapatkan kenikmatan ekstra. Dalam pelatihan di Bantul yang dilakukan untuk motivator kesehatan Aisyiyah bagi kalangan remaja, terpetik cerita lain. Telur akan menyebabkan darah haid lebih kental dan amis. Dan darah yang berwarna kehitaman pertanda haid itu mengandung penyakit.

Memahami Mitos Kesehatan Reproduksi

Kisah-kisah di atas hanyalah sejumlah contoh bagaimana mitos-mitos seputar kesehatan yang berkembang dan berada dalam benak masyarakat, meskipun sulit dicerna akal sehat. Di Indonesia, sesungguhnya mitos serupa itu begitu banyak dan menyuburkan praktek-praktek kesehatan yang tak masuk akal, namun tetap dijalani dan diyakini masyarakat, antara lain yang saat ini fenomenal adalah “Batu Petir Ponari”. Demikian halnya dengan mitos mitos yang terkait dengan reproduksi perempuan. Kita dapat mengumpulkan berbagai cerita seperti kisah-kisah di atas dari penjuru bumi negeri ini. Dan sedihnya, itu bukan hanya diyakini oleh mereka yang kurang beruntung karena pendidikannya rendah, tetapi juga oleh kalangan terdidik. Meskipun sama-sama bermain dengan mitos, pada kasus pengobatan atau perawatan dan pantangan yang terkait dengan seksualitas perempuan, kualitas mitos tersebut berlipat ganda dibandingkan dengan mitos yang terkait dengan kesehatan umum. Jika dalam isu kesehatan umum, letak mitos itu ada pada teknik pengobatannya sendiri (baik orangnya maupun media yang digunakannya seperti tongkat, air, batu dan sejenisnya), pada isu kesehatan perempuan mitos itu berlaku dua untuk dua sisi. Sisi pertama pada teknik pengobatannya (sama halnya dengan mitos yang terkait dengan pengobatan lainnya), yang kedua mitos yang terkait dengan perempuan sebagai obyek pengobatan itu. Mitos yang paling kental menyelimuti perempuan terkait dengan pengobatan tradisional untuk reproduksi adalah bahwa tujuan dari pengobatan itu untuk mengontrol seksualitas perempuan agar lebih pas, cocok, enak bagi lelaki yang akan memanfaatkannya. Dan meskipun lelaki juga terkena mitos serupa yang terkait dengan seksualitasnya, namun tujuannya adalah untuk meningkatkan kegairahan seks pada dirinya dan untuk tujuan kenikmatan dirinya. Lihat saja misalnya contoh-contoh pengobatan tradisional untuk kejantanan lelaki seperti jamu tangkur buaya, jamu pasak bumi, “pijat Mak Erot”, “ramuan jeng Rn” dan seterusnya semuanya berangkat dari mitos tentang kejantanan lelaki, dan jikapun ada manfaatnya, itu untuk kepuasan lelaki sendiri. Contoh-contoh yang terkait dengan mitos seksualitas perempuan seperti dicontohkan di atas, menunjukan betapa rentannya seksualitas perempuan. Dan pangkal dari itu semua adalah, karena ketiadaan informasi yang memadai bagi mereka, serta sikap ambigu masyarakat ketika bicara soal seksualitas. Jika kita bicara soal pengadaan informasi, itu artinya kita bicara mengenai peran pemerintah. Sementara ketika bicara soal ambiguitas niali-nilai seksualitas, kita bicara soal kultur. Sejak kecil anak perempuan tabu untuk mengetahui isu-isu seputar seksualitas. Mereka juga tak diberi bimbingan secara benar, baik di rumah atau di sekolah. Seks dilekatkan sebagai sesuatu yang menakutkan. Padahal sebagai manusia sehat, mereka mendapatkan dorongan alamiyah terkait dengan seks itu. Sementara itu sumber informasi yang sehat dan benar juga terbatas. Tak heran jika anak-anak remaja mendapatkan informasi yang keliru, yang berkembang dari berbagai sarana informasi yang canggih, namun tak selalu benar dan tepat, bahkan bisa jadi keliru besar. Selain berhadapan dengan mitos-mitos kesehatan, isu kesehatan reproduksi juga berhadapan dengan persoalan lain, seperti kebijakan politik kependudukan. Bayangkan, sampai saat ini kita belum kunjung mendapatkan revisi Undang-Undang Kesehatan yang di dalamnya tentulah terkait dengan kesehatan reproduksi. Padahal gagasan untuk revisi itu telah dilakukan sejak tahun 1992.

Reproduksi: Tak Sekedar Aspek Biologis

Banyak aspek yang berpengaruh pada tercapai dan tak tercapainya kesehatan reproduksi perempuan. Di antara sejumlah aspek itu, ada satu aspek yang sangat fundamental tetapi sering terlupakan, yaitu aspek ketimpangan relasi lelaki dan perempuan (gender) dalam isu reproduksi. Isu reproduksi sering sekali hanya dilihat sebagai isu kesehatan/medis. Pendekatannya pun sering hanya dilihat sebagai pendekatan medis. Paling jauh dilihat dari aspek psikologis, yang secara keseluruhan hanya dilihat dari aspek personal. Padahal tercapai dan tidak tercapainya kesehatan reproduksi perempuan pada dasarnya sangat tergantung sejauhmana perempuan memiliki otonomi terhadap tubuh dan seksualitasnya sendiri. Secara lebih terperinci, uraian berikut ini menunjukkan bagaimana praktek-praktek di luar pendekatan medis biologis berpengaruh pada kesehatan reproduksi perempuan. Dan hal ini sekali lagi membuktikan bahwa isu kesehatan reproduksi perempuan jauh melampaui urusan teknis medis yang hanya terkait dengan unsur biologis manusia.

Praktek Sunat Perempuan

Begitu seseorang lahir dan berjenis kelamin perempuan, ancaman pertama yang dihadapi perempuan adalah praktek sunat perempuan. Praktek ini tidak ada hubungannya dengan pemenuhan kesehatan reproduksi perempuan. Sebaliknya bisa membuat perempuan mengalami penderitaan seumur hidupnya. Praktek FGM (female genital mutilation) atau pemotongan alat kelamin perempuan, sampai saat ini masih berlangsung di mana-mana, terutama di wilayah Sub Sahara Afrika. Meskipun kampanye besar-besaran telah dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa, namun praktek itu terus berlangsung. Ulama Al-Azhar sendiri telah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan praktek itu, namun ulama di negara lain seperti Indonesia seringkali bersikap ambigu. Di dunia berpenduduk Muslim seperti Indonesia, praktek sunat perempuan tetap dilakukan meskipun di Saudi Arabia tidak ada praktek itu. Adalah benar bahwa praktek sunat perempuan di Indonesia tak separah akibatnya sebagaimana yang dialami perempuan di Afrika. Namun inti dari praktek itu adalah sama; mengontrol seksualitas perempuan, dan berangkat dari prasangka yang sama, bahwa perempuan pada dasarnya memiliki libido seks yang perlu di kendalikan. Ini menunjukkan bahwa praktek ini terkait dengan kesehatan reproduksi perempuan, tetapi berangkat dari prasangka gender perempuan yang menganggap bahwa perempuan pada dasarnya tak memiliki kemampuan mengendalikan seksualitasnya dan karenanya harus dikontrol melalui praktek sunat itu.

• Kawin Muda

Berbeda dengan anak lelaki, memasuki usia remaja banyak anak perempuan mengalami persoalan terkait dengan reproduksinya. Dalam banyak tradisi, anak perempuan menjalankan diet tertentu seperti pantang makan buah-buahan dan makanan berprotein seperti telur ayam dan ikan. Hal ini dimaksudkan untuk mengontrol menstruasi perempuan agar sesuai dengan yang diharapkan masyarakat (lelaki) kepadanya. Remaja perempuan di desa-desa sangat rentan terhadap praktek perkawinan usia dini. Baru-baru ini kita dihebohkan oleh satu praktek perkawinan dibawah umur, yaitu Ulfah. Satu hal yang memprihatinkan dari peristiwa ini tak sedikit orang yang mengamini praktek itu dengan alasan yang sangat tidak bertanggung jawab yaitu mengikuti sunah Nabi. Meskipun KHI dan Undang-undang Perkawinan telah mengatur bahwa batas usia perempuan menikah adalah 17 tahun, namun praktek perkawinan di bawah umur masih terus berlangsung. Tentu saja banyak alasan yang menyertainya. Antara lain untuk mengatasi kemiskinan keluarga. Tapi tak sedikit yang beranggapan bahwa keperawanan, apalahgi gadis belia, dapat menambah kekuatan kejantanan dan keperkasaan lelaki. Oleh karenanya, praktek kawin dengan usia yang njomplang seperti itu masih mudah kita temui di mana-mana.

• Imbas Berganti-ganti Pasangan

Kesehatan reproduksi perempuan juga rentan terpapar penyakit yang disebabkan oleh praktek berganti-ganti pasangan, baik yang sah menurut agama seperti kawin poligami atau monogami berseri, atau berganti pasangan secara tidak sah menurut agama dan Undang-undang, seperti hubungan seks dengan pekerja seks. Kemiskinan menyebabkan banyak lelaki merantau dari kampungnya, pergi ke luar kota dengan bekerja sebagai pekerja migran. Di sana mereka dengan mudah dapat memenuhi kebutuhan seksnya dengan membeli layanan seks sesaat. Tak mengherankan jika kita lihat peta di bawah ini, bagaimana Pantura telah menunjukan tanpa-tanda yang cukup memprihatinkan terkait dengan penularan HIV/AIDS. Hampir sebagian besar daerah Pantura menunjukkan tanda telah terpapar virus HIV.

1

•HIV pada Ibu Rumah Tangga

Jika kita perhatikan, saat ini trend perempuan ibu rumah tangga yang terpapar HIV/AIDS terus meningkat. Seperti yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Semarang sebagaimana dilihat dalam gambar 2, trend itu tergambar dengan jelas:

2

(Kasus HIV/AIDS menurut Pekerjaan sebagaimana dilaporkan oleh RSUP dr. Karyadi Semarang). Data: DKK Provinsi Jawa tengah

• Praktek Tradisional Seputar Kehamilan

Sebagaimana dilihat dalam mitos-mitos yang berhasil dikumpulkan beberapa motivator Aisyiyah, di negeri ini perempuan hamil berhadapan dengan praktek dan kebiasaan yang cukup membahayakan kesehatan reproduksi perempuan. Budaya campuh sebagaimana diceritakan di atas yaitu memasukkan ramuan yang sangat tidak steril kedalam rahim perempuan paska melahirkan. Intinya adalah agar rahim dan vagina perempuan mengalami dehidrasi dan situasi itu dianggap bagus untuk kepentingan suaminya. Padahal dehidrasi, yaitu kehilangan cairan cairan sangat rentan bagi perempuan karena akan mempermudah masuknya berbagai penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi vagina. Infeksi ini juga mempermudah masuknya virus antara lain HIV/AIDS. Di Madura, sebagaimana dilaporkan oleh staf PUAN di Sumenep, ada kebiasaan yang juga sangat membahayakan kesehatan reproduksi perempuan. Sebagaimana di Serang, di Madura ada praktek memasukan tongkat Madura ke dalam rahim perempuan, baik setelah melahirkan maupun setelah haid. Fungsinya kurang lebih sama, yaitu membuat vagina kering dan kesat. Dengan cara itu dimaksudkan agar vagina perempuan akan kembali seperti perawan lagi. Sebagaimana campuh di banten, tongkat Madura juga terbuat dari ramuan ramuan bumbu dapur yang pedas ditambah daun jati dan kapur. Praktek ini sangat beresiko terhadap infeksi dan juga tak mustahil memicu kanker rahim

• Sasaran program KB

Pada masa Orde Baru, kita mengetahui perempuan menjadi sasaran pemasangan alat kontrasepsi. Segala cara dilakukan agar terjadi penurunan angka kelahiran. Memang hasilnya sangat memuaskan, karena angka rata-rata menurun sampai 2.3 (tiap keluarga rata-rata punya anak 2 atau paling banyak 3 orang). Di masa reformasi, layanan KB tidak lagi intensif, sementara pilihan KB diserahkan kepada masyarakat sendiri. Alat kontrasepsi tak lagi diberikan secara gratis. Pada waktu yang bersamaan, masyarakat telah terlanjur menganggap bahwa KB adalah tanggung jawab perempuan. Akibatnya, perempuan mengalami kesulitan, terutama karena di masa krisis ada prioritas lain yang dianggap lebih penting yang harus didahulukan. Dalam situasi perempuan tak memiliki otonomi untuk mengambil keputusan atas kebutuhan diri dan tubuhnya, tak heran banyak perempuan kemudian gagal melakukan penjarangan kehamilannya. Dalam laporan DKK Jawa tengah sebagaimana dipresentasikan dalam training motivator di Kendal, jumlah kelahiran rata-rata saat ini meningkat lagi menjadi 3.2. Sebagai contoh dari data-data yang dikumpulkan di Kabupaten Kendal misalnya, terdapat penurunan akseptor KB:

– Kecamatan Ringin Arum/Rowosari tahun 2007 yang aktif KB 5699, th 2008 menurun menjadi 5122 akteptor (hilang 577 akseptor)

– Kecamatan Kangkung, pada tahun 2007 yang aktif KB berjumlah 7099,th 2008 menurutn menjadi 7017 akseptor ( hilang 81)

– Kecamatan Sukorejo, Th 2007 yang aktif 9967, pada tahun 2008 yang aktif 8800 akseptor (hilang 1167).

Pembelajaran dari Lapangan

Berbagai situasi di atas membutuhkan penanganan yang sangat cepat dan tepat. Untuk menyumbang upaya pemerintah dalam melakukan peningkatan hak-hak reproduksi perempuan inilah, Asia Foundation melakukan kerjasama dengan mitra-mitranya seperti Aisyiyah, PUAN dan LBH Apik untuk melakukan kegiatan peningkatan pengetahuan dan kesadaran perempuan tentang hak-hak reproduksi mereka.

Pendekatan Integratif

Menyadari bahwa kesehatan reproduksi bukan hanya isu biologis medis, maka program penguatan hak-hak perempuan ini dilakukan melalui penguatan organisasi keagamaan yang sensitif pada isu kesehatan reproduksi perempuan. Kegiatan ini didesain sebagai program bersama antara Asia Foundation dengan Aisyiyah, Puan Amal Hayati dan LBH. Program ini didesain sebagai program yang integratif. Ini dimaksudkan untuk memadukan kekuatan ke tiga lembaga ini menjadi satu kesatuan. Dan dengan cara itu diharapkan satu sama lain dapat menyumbangkan kekuatan dan kelebihan masing-masing. (lihat diagram 1)

3

Diagram 1: Skema program yang terintegratif

Pendekatan integratif itu bukan saja terkait dalam pelaksanaannya tetapi juga dalam pendekatannya. Secara keseluruhan program ini mengembangkan satu pendekatan yang mengintegrasikan pendekatan biologis dan gender. Sebab nyatalah, sebagaimana di lihat di atas, sebagian besar problem kesehatan reproduksi perempuan bukan pada pisik biologisnya, tetapi pada relasi gendernya. Bagaimana mitos-mitos budaya berkembang, bagaimana perempuan kehilangan kontrol atas tubuh dan seksualitasnya dan lain-lain. Dalam periode laporan ini, Puan Amal Hayati telah mencetak 3000 copy suplemen Tantri. Ini adalah salah satu dari 6 suplemen penerbitan yang direncanakan. Kegiatan penerbitan supplement 3 bulanan ini diawali dengan workshop penyusunan tema-tema suplemen sesuai kebutuhan yang dirumuskan baik oleh Aisyiyah maupun LBH APIK. Workshop ini dihadiri Aisyiyah sebagai pihak yang akan mendeseminasi informasi ini sampai ke tingkat desa di 3 kabupaten, LBH Apik, wakil dari kantor pemberdayaan perempuan bidang kesehatan reproduksi, beberapa expert dalam isu kesehatan reproduksi seperti dari Yayasan Kesehatan Perempuan dan anggota jaringan Puan Amal Hayati yang ada di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Depok dan sekitarnya.

Tema-tema suplemen itu adalah:

4

Dari suplemen ini pembaca, terutama para fasilitator daerah dan motivator Aisyiyah, dapat memperoleh informasi buku-buku apa saja yang dapat memperkaya wawasan mereka untuk mereka di informasikan lagi kepada masyarakat atau majelis taklim binaan mereka. Koleksi data tentang kesehatan reproduksi perempuan. Kegiatan ini dapat dikatakan sebagai inti seluruh program ini. Pemberian informasi yang dilakukan oleh Aisyiyah di 3 kabupaten dan 3 provinsi ini menggerakkan lebih dari 3000 perempuan. Dengan memanfaatkan seluruh unit-unit kerja Aisyiyah di tingkat kabupaten, cabang sampai rantingnya, program ini dikelola dengan sistem operasi multi level marketing. Pertama-tama Aisyiyah Pusat dan Asia Foundation menyelenggarakan workshop penyusunan kurikulum TOT di Jakarta pada akhir November 2008. Workshop ini diikuti sejumlah trainers Aisyiyah dan LBH APIK. Workshop ini menghasilkan satu dokumen lengkap modul dan materi pelatihan. Dalam workshop ini, gagasan tentang perlunya perubahan paradigma dalam melihat isu kesehatan bagi perempuan, tidak semata-mata dilihat dari aspek fisik medis semata, tetapi juga aspek sosial dan relasi gender. Gagasan tersebut dibahas secara intensif dan hasilnya dituangkan ke dalam kurikulum. Training of Trainiers (TOT) fasilitator daerah, diselenggarakan di Yogya pada pertengahan Desember 2008 yang diikuti 25 peserta. Mereka terdiri dari fasilitator daerah dari 6 wilayah/kabupaten serta Pengurus Pusat Aisyiyah, masing-masing daerah mengirim 3 utusan. Selain mendapatkan materi terkait dengan kesehatan reproduksi, para peserta juga dibekali teknik-teknik memberdayakan perempuan serta penggalian informasi. Dari Januari sampai Maret 2009, para fasilitator daerah telah menyelenggarakan kegiatan training untuk para motivator daerah. Masing-masing daerah memilih 5 motivator dari 5 kecamatan yang dianggap paling rawan untuk dijadikan sebagai daerah binaan. Di setiap daerah binaan, seorang motivator melakukan pembinaan kelompok yang terdiri dari 2 kelompok remaja, 3 kelompok usia subur dan 2 kelompok manula. Dalam setiap kelompok, kegiatan rata-rata diikuti oleh 60 orang peserta yang memperoleh informasi tentang kesehatan reproduksi dan isu-isu kesehatan lainnya yang relevan dengan konteks lokal. Untuk Banten misalnya, tema yang lebih ditonjolkan adalah soal gizi buruk dan akibatnya kepada perempuan usia produktif, serta pentingnya melakukan pemeriksaan PMS (penyakit menular seksual). Di Banten terdapat 2 sekolah bidan yang menjadi pusat layanan kelompok binaan Aisyiyah untuk program ini. Sementara untuk Kendal, isu yang diangkat adalah soal pencegahan HIV/AIDS dengan peningkatan kesadaran dan posisi perempuan. Untuk Bantul, tema kegiatan difokuskan pada kesehatan remaja. Pelatihan bagi motivator ini secara berturut-turut telah diselenggarakan di Bantul dan Yogyakarta pada awal Januari 2009, Serang dan Banten pada awal Februari 2009, dan Kendal Semarang pada minggu terakhir Februari 2009. Para motivator yang dilatih umumnya adalah para penggerak masyarakat seperti pimpinan majelis taklim, guru, pengelola taman kanak-kanak dan guru pengajian di madrasah, serta petugas kesehatan. Training untuk motivator daerah itu dilakukan oleh para Fasilitator Daerah dan Pengurus Aisyiyah Pusat. Pada awal bulan Maret ini, para motivator daerah sedang menyampaikan informasi yang mereka dapat, baik dari suplemen informasi yang disediakan PP Aisyiyah, LBH Apik maupun dari PUAN, kepada kelompok-kelompok binaan mereka. Dan rencananya pada bulan April, fasilitator daerah akan melakukan kunjungan lapangan sambil memberikan updating informasi. Dalam waktu yang bersamaan, para fasilitator daerah dan para motivator diberdayakan untuk mengumpulkan kisah-kisah seputar kesehatan reproduksi perempuan, yang harus mereka kumpulkan dari masyarakat. Panduan pengumpulan informasi telah disediakan oleh LBH Apik, begitu juga sistem pelaporannya. Di luar kegiatan lapangan itu, LBH Apik masih dalam proses pengumpulan data bersamaa Asiyiyah dan PUAN. Dalam periode ini LBH Apik dan PUAN telah menyelenggarakan kampanye radio dalam rangka memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan (25 November sampai dengan 10 Desember). Dalam periode itu kampanye radio dilakukan di radio Pesona FM Jakarta. Tiap hari Selasa, nara sumber terpilih diundang untuk membicarakan isu-isu seputar kesehatan perempuan, khususnya kesehatan reproduksi. (Tema-tema yang diangkat dan narasumbernya lihat lampiran). Dalam program kampanye ini juga diadakan kuis, dan bagi yang dapat menjawab pertanyaan akan memperoleh hadiah Majalah Tantri yang diterbitkan PUAN, bekerjasama dengan Royal Netherlands Embassy dan Asia Foundation untuk berlangganan selama 1 tahun.

Dampak Program

Secara kualitatif program ini telah diberikan kepada sedikitnya 3.000 perempuan di 3 provinsi dan 3 kabupaten dengan metode sosialisasi yang berjenjang. Sementara untuk pemberian informasi telah disebarkan 3.000 eksemplar Majalah Tantri di wilayah kerja proyek ini, yaitu Serang Yogayakrta dan Semarang, serta wilayah kerja PUAN di beberapa provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur termasuk Madura dan NTB. Namun dampak paling nyata muncul dari organisasi mitra sendiri. Program ini telah menggerakkan jaringan mereka di wilayah-wilayah yang sangat rentan, seperti Kendal dan Serang yang diakui pemerintah sebagai daerah rawan penularan HIV/AIDS. Di daerah-daerah ini semula mereka hanya terlibat dalam program qorriyah thayyibah yaitu program yang mengupayakan pembangunan ekonomi masyarakat miskin dengan tujuan agar mereka terhindar dari praktek praktek keagamaan yang dianggap menyimpang dari prinsip tauhid akibat kesulitan ekonomi. Dengan adanya program ini kegiatan Aisyiyah kembali pada penguatan isu kesehatan perempuan. Program ini secara internal juga berpengaruh pada cara pandang Aisyiyah terkait dengan pendekatan yang semula hanya ditujukan kepada kelompok ibu-ibu usia produktif, sekarang mencakup perempuan di semua umur dari balita sampai manula. Program ini juga menggerakkan Aisyiyah untuk mengubah paradigma dalam melihat isu kesehatan perempuan. Tadinya hanya bersifat fisik biologis dan hanya melihat dari aspek medis, sekarang menjadi lebih komprehensif dalam melihat isu kesehatan reproduksi perempuan terutama yang terkait dengan ketimpangan relasi gender.[**LM]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 30, 2009 in Suplemen

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: