RSS

Peran Laki-Laki Komunitas Pesantren dalam Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

28 Jun

Semua orang memimpikan kehidupan tanpa kekerasan. Namun faktanya kekerasan masih terjadi dimana-mana. Kekerasan terjadi karena adanya ketimpangan relasi antara dua belah pihak. Oleh karena itu, laki-laki maupun perempuan sama-sama berpotensi sebagai pelaku ataupun korban. Salah satu pihak merasa lebih dominan dan pihak lainnya sebagai pihak yang tersub-ordinasi. Dalam relasi sosial di masyarakat, umumnya perempuan yang menjadi korban, dan pelakunya adalah laki-laki.

Kekerasan telah dialami oleh perempuan dari berbagai lapisan sosial, ras, agama, golongan, kebangsaan, usia, aliran politik maupun status perkawinan. Kekerasan terhadap perempuan telah memberikan dampak yang sangat buruk baik secara fisik, psikologis maupun ekonomi, bahkan tidak sedikit yang kehilangan jiwanya. Korban kekerasan tidak berdaya melawan dan menghindar dari kekerasan baik yang terkonstruksi oleh budaya maupun pemahaman agama.

Membangun kesadaran untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan

Upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan saja, tentunya bukan hanya kewajiban perempuan, karena Allah Swt menciptakan manusia  terdiri dari laki-laki dan perempuan, yang mana keduanya saling berhubungan dan berinteraksi. Oleh karenanya peran serta kaum laki-laki menjadi suatu keharusan demi terciptanya hubungan yang setara antara laki-laki dan perempuan, yang salah satu indikatornya adalah tidak ada lagi tindak kekerasan terhadap perempuan.

Kenyataannya, bisa dikatakan masih sangat sedikit laki-laki yang menyadari persoalan kekerasan terhadap perempuan (KTP) adalah masalah yang juga dihadapi  oleh laki-laki. KTP Masih dianggap sebagai masalah perempuan, sehingga keterlibatan laki-laki dalam masalah ini masih sangat kecil, baik dalam penyelesaian maupun pencegahan.

Bagaimana Peran Komunitas Pesantren?

Keberadaan pesantren khususnya komunitas yang ada di dalamnya, memiliki peran penting dalam pemberdayaan dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Upaya ini lebih difokuskan pada penguatan laki-laki untuk ikut berperan dalam penghapusan KTP. Pelibatan peran laki-laki dalam penghapusan KTP ini merupakan suatu keniscayaan, karena disamping bisa mengeliminir sikap defensif kaum laki-laki, hal ini juga akan bisa mengurangi ketegangan, karena bisa lebih empatif sehingga komunikasi bisa berjalan dengan lebih cair dan kekerasan terhadap perempuan bisa dihindarkan.

Upaya meningkatkan peran laki-laki ini dapat dilakukan melalui penyadaran wacana yaitu melakukan klarifikasi terhadap kaum laki-laki bahwa gerakan pemberdayaan terhadap perempuan bukan merupakan pemberontakan terhadap kaum laki-laki. Gerakan ini lebih merupakan upaya meningkatkan peran kaum perempuan agar berbagai potensi yang dimiliki oleh mereka dapat teraktualisasikan secara maksimal sehingga kaum perempuan bisa menjadi partner yang efektif bagi kaum laki-laki. Disamping itu, dengan penyadaran seperti ini, akan mengurangi kesalahpahaman kaum laki-laki terhadap kaum perempuan atau terhadap isu-isu kesetaraan, sehingga mereka tidak perlu merasa terancam posisinya atau terkurangi wibawanya dengan isu ini.

Untuk mengurangi hal-hal yang sensitif seperti itu, gerakan perempuan harus bisa mengemas dan membungkus isu tersebut dalam bahasa yang universal dan religius, misalnya tidak menghadapkan isu pemberdayaan atau penghapusan kekerasan terhadap perempuan secara frontal kepada kaum laki-laki, tetapi membungkus isu ini dalam bingkai spirit keadilan dan kemanusiaan yang menjadi misi utama agama. Cara inilah yang oleh Ibu Sinta Nuriyah disebut dengan diseminasi pemahaman. Diseminasi pemahaman ini bisa dilakukan melalui dua cara yaitu dialog yang santun dan terbuka. Dialog dilakukan pada wilayah pemahaman terhadap tafsir agama yang selama ini dijadikan pijakan pemikiran bagi kaum laki-laki, seperti teks-teks al-Quran, hadist dan beberapa kitab klasik. Cara kedua adalah melalui pelatihan atau halaqah. Cara ini dilakukan terhadap para santri laki-laki, para pemikir atau intelektual. Dengan cara ini diharapkan timbul kesadaran baru di kalangan kaum laki-laki yang dapat mempercepat proses sosialisasi dan gerakan pemberdayaan perempuan maupun penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Mengikuti cara yang kedua, beberapa waktu lalu Puan Amal Hayati melakukan kegiatan workshop peningkatan peran laki-laki komunitas pesantren dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Workshop ini merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka pembentukan komunitas pesantren sensitive gender. Kegiatan ini menjadi penting karena pengaruh mereka cukup besar di kalangan masyarakat. Kesadaran mereka terhadap sensitivitas gender diharapkan dapat membentuk perilaku yang berkeadilan bagi perempuan. Kegiatan ini dilaksanakan di dua tempat, yaitu Tasikmalaya dan Indramayu. Sasaran kegiatan ini adalah kyai muda atau ustadz yang berasal dari pesantren atau majelis taklim yang ada dan berdekatan dengan kedua pesantren tersebut.

Workshop di Cipasung Tasikmalaya

Kegiatan workshop di Tasikmalaya dilaksanakan di Gedung Ukhuwah selama dua hari, yaitu tanggal  11-12 Maret 2009. Kegiatan workshop yang dipandu oleh Abdul Wahid dari yayasan Pulih ini diawali dengan penyampaian materi dan dialog bersama dengan tiga narasumber, yaitu Ibu Sinta Nuriyah, Dr. Luthfi Fathullah dan Hj. Djudju Zubaidah. Pada sesi  pertama, Ibu Sinta Nuriyah selaku keynote speaker memberikan  gambaran tentang Puan Amal Hayati dan isu tentang Islam dan gender. Berkaitan dengan  kegiatan ini, Ibu Nuriyah berharap agar dari kegiatan ini akan muncul prilaku-prilaku yang berkeadilan terhadap perempuan, sehingga kekerasan terhadap perempuan bisa dieliminir atau bisa diperkecil. Dengan demikian perempuan bisa menjadi mitra sejajar pria, tidak hanya dalam rumah tangga tetapi juga dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara.

Pada sesi berikutnya, DR. Luthfi Fathullah menyampaikan pengalamannya dalam melakukan kajian terhadap kitab ‘Uqud al-Lujjayn dengan persepektif perempuan. Luthfi menjelaskan bagaimana peran pesantren dalam melakukan kajian terhadap teks keagamaan untuk gerakan pemberdayaan perempuan. Narasumber berikutnya adalah Hj. Djudju Zubaidah yang menjelaskan tentang signifikansi peran laki-laki dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Pada hari kedua, sesi sepenuhnya dipegang oleh fasilitator, peserta dan panitia untuk bersama-sama mewujudkan tujuan dan merumuskan rencana tindak lanjut workshop.

Workshop di as-Sakienah Indramayu

Seperti halnya di Cipasung, kegiatan di Indramayu juga dilaksanakan selama 2 hari, yaitu tanggal 30-31 Maret 2009. Narasumber dalam kegiatan ini adalah KH. Husein Muhammad, Hj. Ohan Hanafiyah, dan KH. Affandi Ismail.

Sesi pertama diisi KH. Husein Muhammad yang memaparkan pengalaman Puan Amal Hayati dalam melakukan kajian atas kitab ‘Uqud al-Lujjayn. Pro-kontra terhadap hasil kajian ini, terutama dari kalangan pesantren, telah membuka mata semua orang atas isu kekerasan terhadap perempuan yang berbasis teks keagamaan. Namun hasil kajian ini juga telah mengusik pemikiran orang-orang pesantren untuk membuka kembali kitab-kitab yang telah mereka pelajari. Terbukti dengan terbitnya beberapa buku yang isinya menolak hasil kajian tim FK3.

Sesi berikutnya, Ibu Ohan Hanifah menyampaikan pengala-mannya dalam memberikan layanan bagi perempuan korban kekerasan. Ia juga menekankan betapa pentingnya keterlibatan kaum laki-laki dalam upaya peng-hapusan kekerasan terhadap perempuan. Dan apabila yang menyampaikan persoalan ini adalah laki-laki, maka isu ini akan mudah diterima oleh kalangan mereka, dalam hal ini adalah pelaku kekerasan.

Narasumber terakhir adalah KH. Affandi Ismail yang menjelaskan tentang PUSPITA Puan Amal hayati dan apa yang selama ini dilakukan dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Kiai Affandi juga menyebutkan strategi yang diambil pesantren as-Sakienah dalam melakukan sosialisasi isu tentang hak-hak perempuan. Menurutnya, ketika isu ini dibicarakan secara vulgar dan frontal di hadapan masyarakat, maka tentu saja mereka akan langsung menolaknya. Karena itu diperlukan proses yang secara perlahan-lahan mampu mengubah budaya patriarki yang melekat kuat di masyarakat.

Tindak lanjut kegiatan

Meskipun dengan tema yang sama, hasil yang diperoleh dari workshop di dua tempat ini berbeda. Peserta workshop di Tasikmalaya lebih menyepakati tindaklanjut berupa penguatan jaringan pesantren dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Mereka sepakat, bahwa pintu masuk jaringan pesantren ini adalah dengan mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan ini ada di depan mata dan harus segera ditangani. Karena itu, mereka mengharapkan tersedianya bahan-bahan seperti UU PKDRT, UU hak anak dan UU lainnya sebagai referensi bagi mereka dalam menangani kasus ini.

Sedangkan peserta workshop di Indramayu lebih cenderung untuk melakukan kajian dan penyadaran dari aspek wacana. Bagi mereka, ada beberapa pemikiran yang perlu diklarifikasi terlebih dahulu dan membutuhkan kajian yang lebih dalam. Namun pada prinsipnya, para peserta kedua workshop ini menyepakati untuk terlibat dalam penanganan korban kekerasan, baik perempuan maupun laki-laki. Dalam persoalan rumah tangga, mereka akan mencoba melakukan mediasi untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Tetapi bila persoalan ini tidak mampu mereka tangani, maka mereka akan segera merujuknya ke PUSPITA Puan Amal hayati Cipasung (bagi masyarakat Tasikmalaya) dan PUSPITA Puan Amal Hayati as-Sakienah (bagi masyarakat Indramayu).***[TLS]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 28, 2010 in Tak Berkategori

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: