RSS

Tantri vol II No. 3 2009

28 Jun

Assalamu’alaikum War.. Wab..

Aduuuuh, rasanya malu sekali mengucapkan salam kepada para pembaca Tantri yang budiman, karena beberapa kali kehadiran Tantri selalu terlambat. Keterlambatan ini sama sekali bukan karena kesengajaan, melainkan karena adanya beberapa hal yang tidak bisa tidak, harus dihadapi. Oleh karena itu, selagi masih deket-deket dengan lebaran, kami seluruh kerabat Tantri mohon maaf atas semua kesalahan lahir maupun batin, sengaja maupun tidak, agar kesalahan kita menjadi lebur tanpa tersisa dan memulai hari esok dengan lebih baik.

Apalagi akhir-akhir ini bangsa Indonesia telah mengalami berbagai macam parahara. Dimulai dari prahara yang menimpa Manohara, disusul praharanya Prita Mulyasari, sampai prahara bom JW. Marriot, dan masih banyak lagi prahara-prahara yang lain.

Prahara yang menimpa Manohara, konon karena ia telah mendapatkan perlakuan atau tindak kekerasan dari suaminya, yang Pangeran negeri Jiran itu. Sedang praharanya Prita Mulyasari, karena ia menumpahkan kekesalan hatinya atas pelayanan yang kurang baik dari Rumah Sakit Omni, melalui teknologi canggih, yang disebut email/millis. Sementara prahara bom Marriot, di picu oleh pemahaman jihad yang membabi buta.

Namun prahara yang menimpa perempuan adalah, manakala kehidupan rumah tangganya sudah bagaikan neraka akibat penderitaan fisik dan psikis yang dialaminya, tetapi satu-satunya jalan keluar yang menjadi hak prerogatifnya, yaitu khulu’ atau gugat cerai, telah diganjal oleh berbagai macam alasan;  antara lain suami yang tidak mau menceraikannya, atau hakim Pengadilan Agama yang tidak berpihak kepadanya. Akibatnya, hidupnya terkatung-katung diantara sorga dan neraka. Lalu apa yang harus dilakukan perempuan untuk menyelamatkan dirinya? Betulkah Islam mengajarkan tindakan tidak adil kepada perempuan? Kita lihat Kajian Literatur yang ditulis dalam majalah ini, berikut kisah nyata tentang kehidupan dua orang perempuan yang berebut nahkoda biduk rumah tangga. Dan bila akhirnya terjadi perceraian, bagaimana perempuan menghadapi masa depan dan menghidupi dirinya? PUAN SAQO al-Jailani, Probolinggo mencoba membuat terobosan dengan merintis usaha garmen. Dalam edisi ini, kita juga bisa mengikuti perjalanan PUAN menjumpai saudara-saudara kita yang termarjinalkan di desa-desa di penjuru tanah air, untuk diajak sahur bersama, sambil mendengarkan kisah mereka membelah karang, menerjang badai.

Selamat membaca

Wassalamu’alaikum War.. Wab..

Redaksi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 28, 2010 in Tak Berkategori

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: